Setahun
terkahir ini pembicaraan soal (me)nikah tak pernah habis dari jagad
perbincangan antara saya dan teman-teman. Kerap kali saya yang lebih cuek untuk
membuntuti perbincangan ini memaklumi karena usia mereka yang menginjak dua
dasawarsa, bahkan ada yang lebih, “mungkin karena mereka lebih dewasa, wajar
saja jika orientasinya sudah mengarah ke situ,” dalam benak saya. Saya sendiri
yang mereka anggap sebagai ‘bocah’, awalnya merasa suntuk kalau sudah
menyerempet-nyerempet ke persoalan keinginan untuk menikah; katakanlah dengan
pria yang begini dan begitu, mahar yang akan diajukan, konsep acara walimahnya,
sampai tempat tujuan untuk dijadikan tempat bulan madu. Duh, serasa segera
mengepakkan sayap menuju awan-awan imajinasi :D *uhuuuyy
Hampir
setiap hari saya tak pernah tidak berkomunikasi dengan teman-teman, alhasil mengenai
apa pembicaraan mereka melekat dalam diri saya yang berulang kali mendengar
keseruan topik perbincangan. Saya tak dapat menghindar lagi untuk tidak
mempedulikan trend topic pada musim
ini *ceilee… Saya sendiri terkadang
menjadi investigator diri sendiri kenapa bisa ikut antusias membicarakan
hal-hal yang sebelumnya kurang saya lirik. Dalam perenungan itu, saya teringat
Ibu yang pernah mengatakan bahwa manusia itu selalu jalan bergandengan dengan
waktu, dalam kurun waktu tersebut tidak mungkin ia tidak mengalami perubahan,
mungkin perubahan kedewasaan seiring
menyempit batas usianya.
Jadi kalau sudah tertarik membicarakan soal menikah itu tanda kedewasaan? “Usia kamu
sekarang ya memang saat-saat ‘dilingkari’ oleh hal semacam ini”, jelas Ibu
ketika saya mengutarakan trend topic yang
ramai diperbincangkan. (padahal menjadi dewasa adalah fase yang ‘mengerikan’
sepanjang arah berpikir saya selama ini... hehe). Kemudian panjang kali lebar
sama dengan luas, arahan Ibu yang membuat saya tertidur pulas saat itu :D
Pembentukan framing tema menikah lama-lama menjadi
hal yang menarik dan tak pernah habis sepertinya. Benar begitu? Atau saya saja
yang lebay? Entahlah, saya sedikit banyaknya belajar dari cerita teman dan
mbak-mbak yang sudah dilamar dan menikah. Penuturan demi penuturan mereka
menyiratkan satu motivasi tersendiri bagi saya yang sering sekali labil :D
Kecocokan mereka dengan pasangannya yang telah menikah menjadi kesimpulan dalam
pikiran saya: ‘siapa pasangan kita adalah diri kita’. Dan rentetan pelajaran
lainnya yang mulai harus saya pahami sekarang ini. Bukan sebatas memahami urutan
dan teknis acara menuju ijab qabul saja, namun lebih jauh setelah keputusan
kedua saksi menyatakan ‘sah’, yakni fiqih munakahat, psikologi parenting, dan juga manajemen keuangan.
BELAJAR dan PERSIAPKAN! :D Iya sih, tapi begitu ditanya “kapan mau nikah?”
seketika menjadi kikuk.. krik, krik, krik… :D :D “Insya Allah, nanti…” *keep
smile
Akhirnya
seiring proses keheranan saya itu, membuka pikiran saya, lagi-lagi agar tidak
menutup mata dan telinga untuk memahami sesuatu hal. Dan… memutuskan menuju
(me)nikah adalah bukan hal teknis yang mudah layaknya menghitung kancing atau
mengocok arisan..hehe. Walaupun itulah bagian dari fitrah sebagai manusia,
bagian yang menjadi kodrati dalam diri setiap insan.
dini,,,kapan kau akan menikah? haha
BalasHapusentah kapan, banyak yang masih perlu dipersiapkan :)
Hapus