Ada yang tahu wujud
listrik itu seperti apa? Sebagai orang awam soal kelistrikan, saya mendefinisikan
bahwa listrik itu sesuatu yang mampu
menghantarkan dan menghasilkan cahaya melalui lampu, suara melalui alat-alat
audio seperti radio, dan gerak melalui kipas angin. Hehe.. sesungguhnya itu
hanya formasi sederhana yang disederhanakan dari pendefinisian hukum kekekalan
energi. Ya, energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Energi hanya
berpindah dari satu bentuk ke bentuk lain. Energi akan berguna ketika terjadi
perubahan bentuk. Dari berbagai bentuk energi yang banyak digunakan adalah
energi listrik yang bermanfaat ketika diubah menjadi bentuk energi lain. Right?
Kita lihat perubahan
energi listrik itu menjadi bentuk energi lainnya, ada energi cahaya pada lampu,
energi kinetik (gerak) pada kipas angin, energi kalor (panas) pada setrika
listrik, dan energi kimia pada penyepuhan logam. Tentu perubahan energi
tersebut menjadi sangat berguna, bukan? Dengan melihat manfaat dari perubahan
energi tersebut, berarti aliran listrik yang tidak diketahui wujud aslinya itu hanya
dapat dilihat dari gejala yang ditimbulkannya.
Nah, begitu pun dengan
yang namanya ‘Jiwa’. Apa itu? Hingga di abad perkembangan ilmu jiwa seperti saat
ini, belum ada seoang ahli yang dapat menunjukkan wujud jiwa itu seperti apa.
Filosof-filosof pun belum dapat menjelaskannya. Adapun Democritus seorang tokoh
Yunani yang mencetuskan teori atom, mengatakan bahwa jiwa itu terbentuk dari
atom yang strukturnya halus, bahkan lebih halus dari struktur atom tubuh. Atom
jiwa tersebut mudah bergerak dan terletak di sela-sela atom tubuh. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa seluruh tubuh
terdapat atom jiwa.
Kedua hal tersebut sama-sama
tidak dapat ditunjukkan wujudnya, tetapi dapat ditunjukkan gejala-gejala yang
dihasilkan, dari listrik misalnya, panas, menyala, dan sebagainya. Dan dari
gejala-gejala dari jiwa misalnya, marah, sedih, gembira dan sebagainya. Soal
apakah itu jiwa atau definisi jiwa tidak dipersoalkan. Yang perlu kita selidiki
ialah pernyataan-pernyataannya atau gejala kejiwaan, misalnya, perasaan,
pikiran, kemauan dan sebagainya.
Dalam kehidupan
sehari-hari pun sering kali kita kurang dapat mengerti dan memahami tingkah laku seseorang.
Misalnya, suatu ketika kita masuk ke sebuah warteg. Di satu meja ada seorang
pria yang sedang makan sambil mendengarkan musik di earphonenya. Tidak lama kemudian, datanglah seorang pengemis yang
menghampiri pria tersebut. Dengan segera ia membuka dompet lalu memberi uang
kepada pengemis itu. Nah, di dalam penyelidikan kita bisa menemukan beberapa
kemungkinan yang mendasar:
Pria tersebut terdorong oleh rasa belas kasihan kepada pengemis, karena sifatnya yang suka
mengasihi.
2. Pria tersebut
memberikan uangnya agar dinilai dermawan oleh orang lain yang melihatnya.
3. Pria tersebut tidak
suka diganggu, sehingga cepat-cepat memberikan uang kepada pengemis.
Nyatalah di sini untuk
satu jenis perbuatan saja telah ada beberapa kemungkinan alasan dari dasar
perbuatan, dengan kata lain satu jenis perbuatan mempunyai dorongan untuk
berbuat yang berbeda-beda.
***
Sekian yang saya
pahami dari membaca buku beberapa lembar dari buku Pengantar Psikologi Umum…
Tadinya mau
dipanjang-lebarkan mengenai pemberian judul di atas, yang jelas menurut saya
jiwa itu sebagai alat manusia untuk melakukan suatu perbuatan. Entah itu
perbuatan baik atau buruk. Heuheu.. bingung sendiri begini jadinya. Ya pokoknya
tunggu deh hasil renungan saya selanjutnya (siapa juga yang rela nunggu???) :D
Berikut ungkapan Ibnu
Sina mengenai jiwa:
“Nafs (jiwa) dalam jasad itu
bagaikan burung yang terkurung dalam sangkar,merindukan kebebasannya di alam
lepas, menyatu kembali dengan alam ruhani, yaitu alam asalnya. Setiap
kali ia mengingat alam asalnya, ia pun menangis karena rindu ingin
kembali.” (Ibn Sina)
Yogya,
9 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar