Rabu, 09 April 2014

Alat Itu Bernama Jiwa



Ada yang tahu wujud listrik itu seperti apa? Sebagai orang awam soal kelistrikan, saya mendefinisikan bahwa listrik itu sesuatu yang mampu menghantarkan dan menghasilkan cahaya melalui lampu, suara melalui alat-alat audio seperti radio, dan gerak melalui kipas angin. Hehe.. sesungguhnya itu hanya formasi sederhana yang disederhanakan dari pendefinisian hukum kekekalan energi. Ya, energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Energi hanya berpindah dari satu bentuk ke bentuk lain. Energi akan berguna ketika terjadi perubahan bentuk. Dari berbagai bentuk energi yang banyak digunakan adalah energi listrik yang bermanfaat ketika diubah menjadi bentuk energi lain. Right? 

Kita lihat perubahan energi listrik itu menjadi bentuk energi lainnya, ada energi cahaya pada lampu, energi kinetik (gerak) pada kipas angin, energi kalor (panas) pada setrika listrik, dan energi kimia pada penyepuhan logam. Tentu perubahan energi tersebut menjadi sangat berguna, bukan? Dengan melihat manfaat dari perubahan energi tersebut, berarti aliran listrik yang tidak diketahui wujud aslinya itu hanya dapat dilihat dari gejala yang ditimbulkannya.
Nah, begitu pun dengan yang namanya ‘Jiwa’. Apa itu? Hingga di abad perkembangan ilmu jiwa seperti saat ini, belum ada seoang ahli yang dapat menunjukkan wujud jiwa itu seperti apa. Filosof-filosof pun belum dapat menjelaskannya. Adapun Democritus seorang tokoh Yunani yang mencetuskan teori atom, mengatakan bahwa jiwa itu terbentuk dari atom yang strukturnya halus, bahkan lebih halus dari struktur atom tubuh. Atom jiwa tersebut mudah bergerak dan terletak di sela-sela atom tubuh. Dengan demikian dapat  dikatakan bahwa seluruh tubuh terdapat atom jiwa.

Kedua hal tersebut sama-sama tidak dapat ditunjukkan wujudnya, tetapi dapat ditunjukkan gejala-gejala yang dihasilkan, dari listrik misalnya, panas, menyala, dan sebagainya. Dan dari gejala-gejala dari jiwa misalnya, marah, sedih, gembira dan sebagainya. Soal apakah itu jiwa atau definisi jiwa tidak dipersoalkan. Yang perlu kita selidiki ialah pernyataan-pernyataannya atau gejala kejiwaan, misalnya, perasaan, pikiran, kemauan dan sebagainya. 

Dalam kehidupan sehari-hari pun sering kali kita kurang dapat mengerti  dan memahami tingkah laku seseorang. Misalnya, suatu ketika kita masuk ke sebuah warteg. Di satu meja ada seorang pria yang sedang makan sambil mendengarkan musik di earphonenya. Tidak lama kemudian, datanglah seorang pengemis yang menghampiri pria tersebut. Dengan segera ia membuka dompet lalu memberi uang kepada pengemis itu. Nah, di dalam penyelidikan kita bisa menemukan beberapa kemungkinan yang mendasar:
Pria tersebut terdorong oleh rasa belas kasihan kepada pengemis, karena sifatnya yang suka mengasihi.
2.       Pria tersebut memberikan uangnya agar dinilai dermawan oleh orang lain yang melihatnya.
3.      Pria tersebut tidak suka diganggu, sehingga cepat-cepat memberikan uang kepada pengemis.
Nyatalah di sini untuk satu jenis perbuatan saja telah ada beberapa kemungkinan alasan dari dasar perbuatan, dengan kata lain satu jenis perbuatan mempunyai dorongan untuk berbuat yang berbeda-beda.
***
Sekian yang saya pahami dari membaca buku beberapa lembar dari buku Pengantar Psikologi Umum…
Tadinya mau dipanjang-lebarkan mengenai pemberian judul di atas, yang jelas menurut saya jiwa itu sebagai alat manusia untuk melakukan suatu perbuatan. Entah itu perbuatan baik atau buruk. Heuheu.. bingung sendiri begini jadinya. Ya pokoknya tunggu deh hasil renungan saya selanjutnya (siapa juga yang rela nunggu???) :D

Berikut ungkapan Ibnu Sina mengenai jiwa:
Nafs (jiwa) dalam jasad itu bagaikan burung yang terkurung dalam sangkar,merindukan kebebasannya di alam lepas, menyatu kembali dengan alam ruhani, yaitu alam asalnya. Setiap kali ia mengingat alam asalnya, ia pun menangis karena rindu ingin kembali.” (Ibn Sina)

Yogya, 9 April 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar