Sekali
lagi; antara Gamping dan Margonda. Keduanya merupakan halte di perjalanan pada
fase beberapa saat untukku. Sama-sama tempat pemberhentian bus yang dimana
setiap kumenempatinya ada perbedaan rasa. Entah sebab iklim wilayah yang
memayungi lokasi kedua halte itu, suasana ramainya yang tak begitu kontras,
ataukah perasaanku yang terlalu membeda-bedakannya? Namun kurasa tak satu kali aku merasakan hal
seperti itu.
Di
Gamping, sambil kumenunggu bus yang dinanti, lalu lalang kendaraan di depanku
lebih menarik daripada novel yang sengaja kubawa untuk menghindar dari
kebosanan yang sangat berpotensi hadir kala di perjalanan. Meski tatapanku seperti
sibuk dengan keramaian di jalan raya dan sesekali terhenti sejenak pada lampu
merah, namun sebenarnya tak seluruhnya kuurusi dalam pikiranku hal macam itu.
Tatapanku beradu dengan rasa kebahagian yang sebentar lagi akan kuregup,
setelah rasanya hirupan bebas alam kampus telah melepasku bebas. Aku sangat
menantikan saat-saat seperti ini. Senyum merona dan tarikan napasku tak jemu
kulakukan. Meski mungkin orang memandang ekspresiku yang sedikit aneh, bikin ilfil, sampai kudibuat kikuk sendiri
jadinya. Huh, apa urusannya? Rasa lega dan kebahagian saat ini hanya milikku.
Membayangkan
bagaimana nanti saat tiba di tempat segala peraduan suka dan duka.
Celotehan-celotehan dalam hati yang lama kupendam ingin rasanya segera
kuluahkan bersama mereka. Sekalipun cerita yang sempat kusampaikan di ujung
telepon akan kujadikan siaran ulang setelah nanti benar-benar menginjakkan kaki
di sana. Keceriaan dan gelak tawa seolah telah tergambar nyata di ranah
imajinasiku. Ah, sungguh berwarana hidup ini!
Bekal
dalam ransel pun telah kupikirkan dan kupersiapkan sejak seminggu yang lalu.
Dan sedikit jinjingan untuk tak melenggangkan tangan sampai di rumah, aku tak
melupakannya. Sudah ketiga kalinya aku mengecek tiket yang kuselipkan di dalam
dompet kesayanganku, sekedar khawatir tertinggal atau jatuh di jalan tadi.
Hmmm…ternyata ia masih setia demi mengantar kepulanganku.
Seringkali
bus tak datang tepat waktu. Tak jarang hal itu sangat mengusik kesabaranku. Aku
hanya mampu mendramakan hati pada perbatasan lelah sabarku. Untunglah, beberapa
teman menjadi obat penawar saat si bus menjadi objek penantianku. Mereka
sekedar menitipkan pesan lewat ponselku, “hati-hati ya, Din.. salam buat
keluarga di rumah. Jangan lupa nanti oleh-olehnya. Hehe..”, dan sejenisnya.
Buatku itu sebuah pesan yang berisi apresiasi dan bentuk perhatian dari
teman-teman. Eh ada yang kelupaan, meninggalkan Jogja untuk beberapa waktu saja
merupakan hal yang tidak enteng, sepertinya
jiwaku telah melabuhkan cintanya pada tanah yang menyimpan kesan istimewa dan
telah turut mewarnai episode penjajakan riwayatku, dan keramahan dan kearifan
lokalnya yang masih utuh terjaga tak mudah untuk dilupakan, maka tak mudah
ditundukkan oleh gerusan perkembangan zaman yang semakin tak karuan (pada sisi
tertentu). Katanya sih gitu.. =D
Nah,
Sinar Jaya telah menghampiri. Aku bergegas naik dengan menggendong ranselku.
“See you, Jogja… I’ll be there next time.”
***
Dua jam
lagi aku harus ke halte. Aku masih saja duduk malas untuk segera mandi dan
berganti pakaian, hanya menatap dua ransel yang nanti harus kuboyong. Bukan aku
khawatir dengan bawaanku kalau-kalau keberatan nanti. Rasanya baru kemarin
kukecup punggung tangan Ibu sesaat baru saja tiba di rumah, ternyata saat itu
sudah tiga minggu yang lalu. Ingin sekali kuberlama di rumah untuk sekedar
berleha-leha sampai kumerasa di puncak jenuhku. Namun sebuah keharusan sudah
telanjur memenangkan naluri kemalasanku. Hiaaattt!
Aku secepat mungkin melawan rayuan-rayuan yang mematahkan, semangatku tadi telah
direngggut oleh bisikan-bisikan yang memanjakan, ah, lagi-lagi aku menyalahkan
dua hal itu.
Ketiga
adikku menatap dengan sergapan tajam agar aku tidak segera beranjak. Ibu hanya
mampu mencoba menata restu yang utuh dalam hatinya untuk sang anak yang harus
ia lepaskan dari pelukan hangatnya. Aku tak mampu mengatur ekspresi wajahku
yang entah aku tak tahu berbentuk macam apa, kutahan endapan yang terkatung di
ujung mataku. Sementara rasa sesak dalam dada terlalu memaksa untuk bersemayam
lama. Huft, ketidakuasaan ini harus
mendarat di tubuh Ibu, aku terkunci di pelukannya. Mulutku terlalu berat untuk
sekedar mengucap kata ‘pamit’. Begitu pun kepada Ayah, kucuri tatapan dan
rautnya yang tak lagi segar lagi muda. Takzimku mengangkat tangannya hingga
beradu pada keningku, aku tak memberanikan diri lagi untuk sekedar melihat
Ayah. Hanya untuk menghindar dari tetesan yang lebih deras.
Aku tak
ingin berlarut dalam situasi seperti ini. Aku hapus basah di pipi dan segera
menarik tangan Kakak yang siap mengantar ke Margonda. Sambil menikmati alunan
deru sepeda motor yang Kakak kendarai, tanganku sibuk menahan barang bawaan
yang lebih banyak dari tiga minggu yang lalu. “Seandainya masih ada waktu untuk
main-main dulu sama Kakak…”, benakku berbicara. Tetapi situasi berkata lain, bus
sudah menunggu di Margonda dan nampaknya penumpang lain sudah bersiap-siap
juga. Setelah tiket sudah di tangan, Kakak mengantarkan sampai tempat duduk nomor
4, ya, tepat di belakang pak supir. “Yaudah ati-ati
ya… ntar kalo ada liburan Kakak ke Jogja deh…” tangan usilnya mengacak-acak
penutup kepalaku. Aku hanya mengiyakan saja. Kakak segera menuruni tangga bis
keluar, dan menoleh lagi ke arahku, “Oh iya, wallpaper yang di netbook awas jangan sampe diganti!” ancamnya.
Heh? Apa-apaan ini? Wallpaper yang
dimaksud adalah foto seorang gadis berjilbab ungu dengan senyum yang begitu
memesona yang sedang ia ‘perjuangkan’, dan di sampingnya adalah foto Kakak
sendiri. Kedua foto itu digrouping menjadi satu. Kakak semata wayang ini memang
agak lebay kadang-kadang… -___-“
Setelah
berpamitan dengan pesan yang konyol itu, kulihat Si Kaos Merah dengan motor dan
juga helm merah sudah melesat cepat di tengah keramaian pusat kota Depok. Aku
duduk lemas. Selalu begini saat sudah harus sendiri lagi. Terlalu naïf jika aku
mengakui bahwa aku kuat. Bayang-bayang ketidakmampuan untuk menjalankan amanah
sepenuhnya menghantui pikiranku. Ya, tempat yang disebut-sebut kota istimewa
itu adalah tempat pertarungan amanah dan segala ambisi yang akan kujalani.
Sinar
Jaya jurusan Depok-Jogja berjalan perlahan menembus kemacetan ringan di sekitar
tiga Mall yang menjulang langit kota Belimbing itu. Aku masih berpatung,
melamun, tatapan tajamku menembus ke balik kaca. Aku masih melamuni bagaimana dulu
aku berjalan menuju sekolah. Sejak TPA hingga SMA. Rasanya tak mungkin yang
kutelusuri jalan menuju majelis ilmu ini semakin jauh dari rumah. Sekian,
sekian, sekian jarak yang relatif jika dipandang, sampai pada akhirnya ratusan
kilometer telah mengantarku ke ujung tempat duduk belajarku sekarang.
“Mbak..mbak..”,
lamunanku terusik oleh suara di samping kiriku. Kutemukan seorang gadis
berjilbab biru muda sebaya denganku. Senyumnya begitu elok dipandang, cantik
dan lembut parasnya. “Oh iya mbak..” jawabku terperanjat. Ia kembali berucap
dengan logat jawa, “Mbak nya nanti turun di mana?”. “Saya nanti turun di Jogja.
Mbak dimana?”, timpalku. “Saya di Banyumas, Mbak..” ia tersenyum simpul. “Oh di
Banyumas ya.. ke sini liburan atau kuliah?” tanyaku agak penasaran. Senyumnya
kembali menghiasi wajahnya yang ayu, “Saya kesini kerja, Mbak.. di Kelapa Dua.”
“hah, kerja? Jauh banget dong..” “hehe..iya Mbak, soalnya ditempatkan langsung
dari pihak sekolah saya”, jawabnya malu-malu. “Hmmm gitu… dari SMK dan pondok
ya?” tebak ngasalku. ”iya Mbak.. Mbak
nya asli sini, tho?” “iya..”jawabku
singkat sambil memaksakan senyum. “Kuliah ya di Jogja? Sudah berapa lama,
Mbak?”, gilirannya yang bertanya. “Iya, yaa sekitar setahun setengah. Mbak udah
lama juga?” “saya baru setengah tahun kok Mbak disini.” sahutnya lembut. Aku
manggut-manggut saja.
Setelahnya
baru kusadari lagu-lagu Tantowi Yahya dan Ebiet G Ade yang diputar pak supir
tengah menemani perjalanan yang kian melesat jauh dari titik keberangkatan.
Mengalun dengan elegan setiap bait liriknya,
dan aku teringat pada sosok yang menyukai lagu-lagu tersebut . Ya, Ayah!
Seingatku sejak aku seumuran SD, Ayah sering memutarkan lagu-lagu itu, sampai
aku hafal saking sering mendengarkan, terutama saat hari minggu pagi dipastikan
seantero rumah dipekikkan oleh suara Om Tantowi dan Om Ebiet yang khas itu. Aku
begitu menikmati dengan ingatan memori yang masih sangat menempel dengan
lagu-lagu kesukaan Ayah itu.
Rupanya
aku tertidur entah berapa lama. Kutengok gadis tadi sudah tak ada. Segera
kuterawang di balik kaca jendela yang cahayanya padam gulita. Hingga sekilat
kutemukan plang sebuah sekolah yang di sudut kiri bawahnya tertera “Kebumen”.
Hah! berarti gadis itu sudah turun dan tak berpamitan padaku, karena mungkin
tak berani membangunkanku yang tertidur seperti mayat. Aku menyesal tak
menanyakan namanya! Perkenalan singkat namun aku menyiakannya. Aku geram
sendiri jadinya.
Tibalah
di tempat yang dituju. Kuinjakkan kaki di tempat pemberhentian bus, dekat pasar
Gamping. Aku cepat meminta tolong pada bapak ojek agar mengantarkanku ke rumah
kontrakan yang berjarak satu kilometer dari pasar Gamping. Sayup-sayup
kumandang adzan shubuh terdengar bersahutan… Huft, selamat pagi Jogja! Selamat
berjumpa denganku lagi dengan segala pertarungan akan cita-cita yang kutekadkan
dari ujung sana menuju tanahmu ini. Kini aku kembali. J
Bantul,
12 Januari 2014