Kamis, 13 Maret 2014

FA FIRRUU ILALLAH!

“Fa firruu ilallah”—sudah hafal dengan kalimat perintah tersebut? Itulah potongan ayat dalam surah Az-Zariyat ayat 50 dalam kitab Peringatan-Nya. Begitu saya membaca kalimat ini rasanya ada magnet yang mendorong saya untuk membaca terjemahannya. Oh rupanya.. ”maka bersegeralah kembali (mentaati) Allah”. Dengan spontan saya langsung mengucapkan kepada teman yang baru saja pulang dari kampus, dan hendak mendirikan shalat maghrib, ia sudah memakai mukena dan menghamparkan sajadah, “Mus, fa firruu ilallah!”. Responnya? Sedikitpun Mustika tak menoleh, ada rasa sedikit kecewa sih..tapi terobati karena ia segera mengangkatkan tangan dan “Allahu Akbar”, suaranya lirih. Dalam benak saya, “Oh Mustika udah paham tho”, lanjut membaca terjemahan ayat lainnya.

Usai salam ia langsung bertanya pada saya, “Eh Din, tadi kamu bilang apa sebelum aku shalat?” nadanya yang selalu antusias kalau bertanya dan serius. (Hadew -_- kirain udah paham :D). “Fa firruu ilallah!” sambil setengah mengacungkan telunjuk. Hehe.“Artine opo e?” tambah antusias. Segera saya cek ulang kalau-kalau ada yang salah, ”maka bersegeralah kembali (mentaati) Allah, Mus..”. “Oh jadi kamu nyuruh aku kembali kepada Allah setelah pulang dari kampus?” senyumnya menyeringai. “Eh, bukan aku yang nyuruhlah, Mus… Udah jelas Allah yang nyuruh langsung…”, nada so’ tegas. “Iya e Din, berarti dalam keadaan apapun kita harus tetap kembali pada Allah ya, lagi capek, lagi sedih, lagi seneng, ah pokonya dalam keadaan apapun”. “hehe.. siipp banget, Mus”, giliran si jempol yang diacungkan.



Nah, ini nih yang sering kita abaikan. Begitu banyak kalimat peringatan yang Allah Swt. Tujukan kepada kita melaui media komunikasi-Nya, Al-Qur’an, tapi kita tak menggubris sedikitpun untuk menjalankan perintah-Nya Yang Agung. Tagihan biaya sekolah, tagihan listrik, tagihan kreditan, dsb justru sering kali menempati posisi lebih utama untuk ditanggapi dibandingkan dengan peringatan dari Sang MahaPemberi itu semua. Kita justru membenturkan diri pada dalih-dalih bandel, “Kalau nggak segera saya lunasi kan nanti dikeluarkan dari sekolah. Kalau nggak cepet-cepet dibayarkan kan malu sama tetangga. Bla, bla, bla :p”. Wah, berasa semuanya emergency banget alias kepepet.

Biar Allah yang urus, boss.. bukankah segala urusan itu datangnya dari Allah? Setelah kita berdo’a dan berusaha kan eksekutornya Allah… serahkan semuanya pada Allah, bukan kepada tetangga yang siap minjemin duit. Hehe.. penjaminannya kan juga telah disebutkan berkali-kali, “Dialah Yang MahaPemberi”.

Tidak sembarang lho Allah melontaran kalimat peringatan-Nya. Peringatan-Nya tentang apapun dalam Al-Qur’an dilatarbelakangi oleh ulah kaum-kaum yang sudah terlewat batas, ada Kaum Nabi Nuh yang dibinasakan oleh banjir besar, Kaum Nabi Luth yang dihujani batu, dan ada juga Fir’aun beserta kaumnya yang ditenggelamkan di laut Merah atas kesombongannya karena mengaku dirinya sebagai tuhan. Naudzubillah kalau kita termasuk golongan yang melampaui batas.

Begini, saat kita dirundung kegalauan maka segeralah perintahkan secara otomatis diri kita untuk tergerak kembali pada-Nya, berdo’a, curhat sama Allah, minta diberi petunjuk, kemantapan hati, de el el apapun permintaan kita. Begitu pun saat kita senang, gembira, mendapat kenikmatan, maka segera berucap syukur, “barangsiapa yang bersyukur maka akan ditambahkan kenikmatannya, barangsiapa yang kufur maka tunggulah azab yang pedih”. Dengan cara itulah kita tunjukkan ketaatan kita sebagai seorang hamba yang ‘melek’ atas peringatan yang Allah lontarkan.

Yuk, sama-sama kita mulai perhatian atas perhatiannya Allah kepada kita. Jangan sampai karena begitu congaknya kita karena tak menggubris peringatan Allah lantas Allah memberi punishment-Nya, berupa kebutaan mata, hati, dan pikiran kita. naudzubillah min dzalik!

Mustika bilang, dalam keadaan apapun kita harus tetap kembali pada Allah. Ustadz Yusuf Mansur bilang,  Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Terkahir, saya bilang, kiblatkan segalanya hanya pada Allah. J

Antara Gamping dan Margonda

Sekali lagi; antara Gamping dan Margonda. Keduanya merupakan halte di perjalanan pada fase beberapa saat untukku. Sama-sama tempat pemberhentian bus yang dimana setiap kumenempatinya ada perbedaan rasa. Entah sebab iklim wilayah yang memayungi lokasi kedua halte itu, suasana ramainya yang tak begitu kontras, ataukah perasaanku yang terlalu membeda-bedakannya?  Namun kurasa tak satu kali aku merasakan hal seperti itu.

Di Gamping, sambil kumenunggu bus yang dinanti, lalu lalang kendaraan di depanku lebih menarik daripada novel yang sengaja kubawa untuk menghindar dari kebosanan yang sangat berpotensi hadir kala di perjalanan. Meski tatapanku seperti sibuk dengan keramaian di jalan raya dan sesekali terhenti sejenak pada lampu merah, namun sebenarnya tak seluruhnya kuurusi dalam pikiranku hal macam itu. Tatapanku beradu dengan rasa kebahagian yang sebentar lagi akan kuregup, setelah rasanya hirupan bebas alam kampus telah melepasku bebas. Aku sangat menantikan saat-saat seperti ini. Senyum merona dan tarikan napasku tak jemu kulakukan. Meski mungkin orang memandang ekspresiku yang sedikit aneh, bikin ilfil, sampai kudibuat kikuk sendiri jadinya. Huh, apa urusannya? Rasa lega dan kebahagian saat ini hanya milikku.

Membayangkan bagaimana nanti saat tiba di tempat segala peraduan suka dan duka. Celotehan-celotehan dalam hati yang lama kupendam ingin rasanya segera kuluahkan bersama mereka. Sekalipun cerita yang sempat kusampaikan di ujung telepon akan kujadikan siaran ulang setelah nanti benar-benar menginjakkan kaki di sana. Keceriaan dan gelak tawa seolah telah tergambar nyata di ranah imajinasiku. Ah, sungguh berwarana hidup ini!

Bekal dalam ransel pun telah kupikirkan dan kupersiapkan sejak seminggu yang lalu. Dan sedikit jinjingan untuk tak melenggangkan tangan sampai di rumah, aku tak melupakannya. Sudah ketiga kalinya aku mengecek tiket yang kuselipkan di dalam dompet kesayanganku, sekedar khawatir tertinggal atau jatuh di jalan tadi. Hmmm…ternyata ia masih setia demi mengantar kepulanganku.

Seringkali bus tak datang tepat waktu. Tak jarang hal itu sangat mengusik kesabaranku. Aku hanya mampu mendramakan hati pada perbatasan lelah sabarku. Untunglah, beberapa teman menjadi obat penawar saat si bus menjadi objek penantianku. Mereka sekedar menitipkan pesan lewat ponselku, “hati-hati ya, Din.. salam buat keluarga di rumah. Jangan lupa nanti oleh-olehnya. Hehe..”, dan sejenisnya. Buatku itu sebuah pesan yang berisi apresiasi dan bentuk perhatian dari teman-teman. Eh ada yang kelupaan, meninggalkan Jogja untuk beberapa waktu saja merupakan hal yang tidak enteng, sepertinya jiwaku telah melabuhkan cintanya pada tanah yang menyimpan kesan istimewa dan telah turut mewarnai episode penjajakan riwayatku, dan keramahan dan kearifan lokalnya yang masih utuh terjaga tak mudah untuk dilupakan, maka tak mudah ditundukkan oleh gerusan perkembangan zaman yang semakin tak karuan (pada sisi tertentu). Katanya sih gitu.. =D

Nah, Sinar Jaya telah menghampiri. Aku bergegas naik dengan menggendong ranselku. “See you, Jogja… I’ll be there next time.”

***
Dua jam lagi aku harus ke halte. Aku masih saja duduk malas untuk segera mandi dan berganti pakaian, hanya menatap dua ransel yang nanti harus kuboyong. Bukan aku khawatir dengan bawaanku kalau-kalau keberatan nanti. Rasanya baru kemarin kukecup punggung tangan Ibu sesaat baru saja tiba di rumah, ternyata saat itu sudah tiga minggu yang lalu. Ingin sekali kuberlama di rumah untuk sekedar berleha-leha sampai kumerasa di puncak jenuhku. Namun sebuah keharusan sudah telanjur memenangkan naluri kemalasanku. Hiaaattt! Aku secepat mungkin melawan rayuan-rayuan yang mematahkan, semangatku tadi telah direngggut oleh bisikan-bisikan yang memanjakan, ah, lagi-lagi aku menyalahkan dua hal itu.

Ketiga adikku menatap dengan sergapan tajam agar aku tidak segera beranjak. Ibu hanya mampu mencoba menata restu yang utuh dalam hatinya untuk sang anak yang harus ia lepaskan dari pelukan hangatnya. Aku tak mampu mengatur ekspresi wajahku yang entah aku tak tahu berbentuk macam apa, kutahan endapan yang terkatung di ujung mataku. Sementara rasa sesak dalam dada terlalu memaksa untuk bersemayam lama. Huft, ketidakuasaan ini harus mendarat di tubuh Ibu, aku terkunci di pelukannya. Mulutku terlalu berat untuk sekedar mengucap kata ‘pamit’. Begitu pun kepada Ayah, kucuri tatapan dan rautnya yang tak lagi segar lagi muda. Takzimku mengangkat tangannya hingga beradu pada keningku, aku tak memberanikan diri lagi untuk sekedar melihat Ayah. Hanya untuk menghindar dari tetesan yang lebih deras.

Aku tak ingin berlarut dalam situasi seperti ini. Aku hapus basah di pipi dan segera menarik tangan Kakak yang siap mengantar ke Margonda. Sambil menikmati alunan deru sepeda motor yang Kakak kendarai, tanganku sibuk menahan barang bawaan yang lebih banyak dari tiga minggu yang lalu. “Seandainya masih ada waktu untuk main-main dulu sama Kakak…”, benakku berbicara. Tetapi situasi berkata lain, bus sudah menunggu di Margonda dan nampaknya penumpang lain sudah bersiap-siap juga. Setelah tiket sudah di tangan, Kakak mengantarkan sampai tempat duduk nomor 4, ya, tepat di belakang pak supir. “Yaudah ati-ati ya… ntar kalo ada liburan Kakak ke Jogja deh…” tangan usilnya mengacak-acak penutup kepalaku. Aku hanya mengiyakan saja. Kakak segera menuruni tangga bis keluar, dan menoleh lagi ke arahku, “Oh iya, wallpaper yang di netbook awas jangan sampe diganti!” ancamnya. Heh? Apa-apaan ini? Wallpaper yang dimaksud adalah foto seorang gadis berjilbab ungu dengan senyum yang begitu memesona yang sedang ia ‘perjuangkan’, dan di sampingnya adalah foto Kakak sendiri. Kedua foto itu digrouping menjadi satu. Kakak semata wayang ini memang agak lebay kadang-kadang… -___-“

Setelah berpamitan dengan pesan yang konyol itu, kulihat Si Kaos Merah dengan motor dan juga helm merah sudah melesat cepat di tengah keramaian pusat kota Depok. Aku duduk lemas. Selalu begini saat sudah harus sendiri lagi. Terlalu naïf jika aku mengakui bahwa aku kuat. Bayang-bayang ketidakmampuan untuk menjalankan amanah sepenuhnya menghantui pikiranku. Ya, tempat yang disebut-sebut kota istimewa itu adalah tempat pertarungan amanah dan segala ambisi yang akan kujalani.

Sinar Jaya jurusan Depok-Jogja berjalan perlahan menembus kemacetan ringan di sekitar tiga Mall yang menjulang langit kota Belimbing itu. Aku masih berpatung, melamun, tatapan tajamku menembus ke balik kaca. Aku masih melamuni bagaimana dulu aku berjalan menuju sekolah. Sejak TPA hingga SMA. Rasanya tak mungkin yang kutelusuri jalan menuju majelis ilmu ini semakin jauh dari rumah. Sekian, sekian, sekian jarak yang relatif jika dipandang, sampai pada akhirnya ratusan kilometer telah mengantarku ke ujung tempat duduk belajarku sekarang.

“Mbak..mbak..”, lamunanku terusik oleh suara di samping kiriku. Kutemukan seorang gadis berjilbab biru muda sebaya denganku. Senyumnya begitu elok dipandang, cantik dan lembut parasnya. “Oh iya mbak..” jawabku terperanjat. Ia kembali berucap dengan logat jawa, “Mbak nya nanti turun di mana?”. “Saya nanti turun di Jogja. Mbak dimana?”, timpalku. “Saya di Banyumas, Mbak..” ia tersenyum simpul. “Oh di Banyumas ya.. ke sini liburan atau kuliah?” tanyaku agak penasaran. Senyumnya kembali menghiasi wajahnya yang ayu, “Saya kesini kerja, Mbak.. di Kelapa Dua.” “hah, kerja? Jauh banget dong..” “hehe..iya Mbak, soalnya ditempatkan langsung dari pihak sekolah saya”, jawabnya malu-malu. “Hmmm gitu… dari SMK dan pondok ya?” tebak ngasalku. ”iya Mbak.. Mbak nya asli sini, tho?” “iya..”jawabku singkat sambil memaksakan senyum. “Kuliah ya di Jogja? Sudah berapa lama, Mbak?”, gilirannya yang bertanya. “Iya, yaa sekitar setahun setengah. Mbak udah lama juga?” “saya baru setengah tahun kok Mbak disini.” sahutnya lembut. Aku manggut-manggut saja.

Setelahnya baru kusadari lagu-lagu Tantowi Yahya dan Ebiet G Ade yang diputar pak supir tengah menemani perjalanan yang kian melesat jauh dari titik keberangkatan. Mengalun dengan elegan setiap bait liriknya,  dan aku teringat pada sosok yang menyukai lagu-lagu tersebut . Ya, Ayah! Seingatku sejak aku seumuran SD, Ayah sering memutarkan lagu-lagu itu, sampai aku hafal saking sering mendengarkan, terutama saat hari minggu pagi dipastikan seantero rumah dipekikkan oleh suara Om Tantowi dan Om Ebiet yang khas itu. Aku begitu menikmati dengan ingatan memori yang masih sangat menempel dengan lagu-lagu kesukaan Ayah itu.

Rupanya aku tertidur entah berapa lama. Kutengok gadis tadi sudah tak ada. Segera kuterawang di balik kaca jendela yang cahayanya padam gulita. Hingga sekilat kutemukan plang sebuah sekolah yang di sudut kiri bawahnya tertera “Kebumen”. Hah! berarti gadis itu sudah turun dan tak berpamitan padaku, karena mungkin tak berani membangunkanku yang tertidur seperti mayat. Aku menyesal tak menanyakan namanya! Perkenalan singkat namun aku menyiakannya. Aku geram sendiri jadinya.

Tibalah di tempat yang dituju. Kuinjakkan kaki di tempat pemberhentian bus, dekat pasar Gamping. Aku cepat meminta tolong pada bapak ojek agar mengantarkanku ke rumah kontrakan yang berjarak satu kilometer dari pasar Gamping. Sayup-sayup kumandang adzan shubuh terdengar bersahutan… Huft, selamat pagi Jogja! Selamat berjumpa denganku lagi dengan segala pertarungan akan cita-cita yang kutekadkan dari ujung sana menuju tanahmu ini. Kini aku kembali. J


Bantul, 12 Januari 2014