![]() |
| republika.co.id |
Hal
yang membuatku tertarik untuk digali adalah mengenai peran perempuan sebagai
seorang ibu. Dari keseluruhan pemaparan
setidaknya aku bisa menangkap perspektif teman-teman presentator, yakni untuk
menjadi perempuan yang shalihah adalah terus mengupayakan agar senantiasa
mentaati Allah dan Rasulnya. Dengan cara apa? Dengan cara mengembalikan diri
pada fitrah sebagai perempuan, khususnya untuk mendidik anak secara lahir dan
batin. Ya! Ibadah sebagai perwujudan rasa cinta kepada Allah dan Rasul bukan
saja yang bersifat mahdah, melainkan seperti halnya menyuapi makan,
memandikan, mengantarkan ke sekolah, menemaninya mengerjakan PR, merangkulnya
saat mereka dirundung takut dan cemas, dan sebagainya, bukankah itu juga
ibadah? Kalau hal demikian adanya, kita mencintai anak dengan setulus hati
dengan motivasi karena Allah dan Rasul memerintahkannya untuk ditaati. Pada akhirnya
kita memberi dan memperoleh cinta yang berlipat sebagai seorang ibu, bukan?
Posisi
dan peran perempuan terlebih sebagai ibu adalah pemegang andil menjadi madrasatul ula dalam keluarga untuk
generasi selanjutnya. Yang pada dasarnya melalui peradaban lingkup kecil
(keluarga) merupakan langkah awal mempersiapkan tunas-tunas baru demi
memperbaiki akhlak anak-anak sebagai cerminan suatu generasi yang bisa kita
lihat dalam kenyataan kian memprihatinkan. Hal tak kalah urgen, yang perlu
ditanamkan pada perempuan adalah penyadaran akan berharganya peran perempuan
dalam memberdayakan generasi yang terus akan melaju sebagai generasi pembangun yang
akan terus berkelanjutan. Buang jauh-jauh pikiran yang hedonis manakala apabila
perempuan hanya dikungkung di rumah akan membuatnya apatis dan tertinggal.
Sungguh, banyak pahala yang mampu kita regup lebih banyak menjadi seorang ibu
yang sesungguhnya. Bukan menjadi ibu yang setiap harinya pulang-pergi demi
urusan kantor sedangkan anaknya cukup mendapat kasih sayang dari seorang
pengasuhnya.
Harapan
akan kemapaman akhlak anak-anak kita jangan sampai terputus hanya karena ambisi
kita untuk berkiprah di luar rumah mengalahkan motivasi untuk mendidik anak
dengan sebaik-baiknya. Kesungguhan pada harapan itu harus tercipta mulai sejak
saat ini, bukalah surah Al-A’raf ayat 181:
Dan di
antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan
hak, dan dengan hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.
(sekali
lagi akan kukatakan): kesungguhan pada harapan itu harus tercipta sejak saat ini.
Tidak banyak waktu untuk memulai dari diri kita terlebih dahulu. Bersegeralah
untuk berbuat jika sinyal-sinyal
hidayah-Nya telah kita rasakan dalam lubuk hati. Tak rugikah jika hidayah itu
menghilang tak kembali?
Wahai
Dzat Yang Maha Benar, Maha Kuasa…
Mampukan
kami mendapat kepantasan dari pandangan-Mu. Terpujilah Engkau atas segala
limpahan karunia yang tiada tara, nikmat-Mu yang disematkan kepada makhluk yang
bernama ‘perempuan’ semoga tetap melekatlah pada diri ini dengan seutuhnya.
Perkenankalah rahim-rahim kami ini melahirkan generasi yang tunduk patuh hanya
pada-Mu, mampukan kami untuk memperkenalkan kepada anak-anak kami segala hal
tentang-Mu.
Di
atas kami berpijak dan di bawah nikmat-Mu berupa gerimis ini, semoga Engkau
perkenankan bumi dan langit seisinya turut berdo’a untuk harapan kami yang satu
ini. Aamiin…
Terima
kasih kepada teman-teman yang telah membagi hikmah padaku. Semoga semangat kita
tiada pernah surut untuk belajar selalu, dilapangkan hatinya dan dimudahkan
dalam berfikir.
Dalam penuh pengharapan…
Yogya, 7 Desember 2014
17.16

