Kamis, 01 Mei 2014

HUMANIZING HUMAN

Humanizing human. Ya, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Pendidikan adalah proses panjang untuk mengaktualisasikan seluruh potensi diri manusia, sehingga seluruh proses kemanusiaannya menjadi aktual. Konon, melalui dunia pendidikan lah banyak orang yang memiliki pandangan bahwa pendidikan sebagai wahana penemuan insan-insan pembaharu.

Mereka tak sembarang mengangkat spekulasi semata, namun kenyataan lah yang mengangkat harapan yang membumbung tinggi tatkala sebuah sistem berada di ambang ‘wajah yang kelam’. Padahal harapan banyak orang adalah bahwa dunia pendidikan menjadi satu-satunya wahana dalam menggulirkan upaya ‘memanusiakan manusia’.

Pendidikan bukanlah sebatas pergulatan sosial dalam arena sekolah saja. Pendidikan harus tumbuh dari dalam diri, harus ada pengantar bagaimana jiwa didikan tersebut terlahir dari motivasi murni agar insan-insan pembaharu ini mampu dan siap dididik, hingga secara perlahan mampu mendidik dirinya sendiri tanpa terdikte. Peran keluarga lah yang menjadi pembuka kepekaan anak agar tidak saja menerima pengajaran atau sumber pengetahuan yang diberikan kepadanya, namun juga memiliki motif untuk mengejar pengetahuan secara pribadi.

tempe.wordpress.com
Peran keluarga dalam kehidupan bermasyarakat memiliki andil besar dalam mempersiapkan anak secara utuh menuju dimensi spiritual dan emosional, sebab dari lingkup rumah tersebut menjadi sumber peradaban untuk mengawali penanaman nilai-nilai pendidikan yang sesungguhnya. Adapun lembaga pendidikan seperti sekolah, hanyalah tempat pengembangan orientasi anak dalam mengejar apa yang bisa didapatkan secara lebih dari pendidikan dalam keluarga. Kedua lingkungan (keluarga dan sekolah) akan menggiring perjalanan pendidikan yang sesuai dengan apa yang diharapkan jika kedua pilar tersebut tidak terpisah dalam pelaksanaannya. Apatis bukanlah zamannya lagi hari ini, ketika orangtua menyerahkan anaknya begitu saja seperti kertas putih kepada sekolah. Maka tetaplah, keluarga merupakan pemberi fondasi utama bagi anak.

Carut marut wajah pendidikan bangsa ini sesungguhnya mungkin saja tak bisa dipungkiri dikarenakan kesalahan pemahaman dalam pemaknaan ‘pendidikan’ itu sendiri. Berbagai kasus yang memberikan noda hitam dalam wacana pendidikan menjadi PR kita bersama untuk memberbaiki dan membentuk insan-insan pembaharu yang akan mengisi peradaban selanjutanya. Tak pernah ada yang terlambat selama kita masih menaruh optimisme dalam setiap hal yang harus terus diperbaiki. Kita bisa, Indonesia bisa!

Selamat HARDIKNAS ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar