Mungkin
memang aku ini seorang yang tinggi berangan, seperti yang mereka katakan. Mereka
yang telah mengenalku dekat. Berangan telah menjadi bagian dari waktu yang
telah kuhabiskan sejak kecil. Masa itu telah menjadi hal yang menyenangkan
bagiku, setidaknya aku telah merasakan indahnya berselancar dengan imajinasiku
yang sering kali diilhami dari kartun-kartun yang setiap hari libur kutonton
dari pagi hingga menjelang siang.
Khayalan
konyol pernah terlintas dalam pikiranku saat-saat usia SD awal. Aku pernah
membayangkan serunya naik ayunan dengan sekencang-kencangnya sambil memejamkan
mata, dalam gelapnya pejaman mata itu aku memasuki lorong sambil terbang ala
superman, lalu tanpa disadari ternyata aku talah berada di puncak pelangi, di
situlah tempatku untuk main ‘perosotan’. Aku dadah-dadah melambaikan tangan kepada teman-temanku yang tengah
asyik bermain di atas awan. Mereka membalas lambaian tanganku dengan riangnya.
Rasanya akulah paling bahagia karena bisa bermain di atas biasan cahaya yang
warna-warni itu.
Juga pernah
kubayangkan bagaimana teriakan penonton dan jepretan kamera ketika aku memimpin
sebuah kelompok marching band. Ambisi itu muncul setelah kutonton pawai tujuhbelasan
di alun-alun kecamatan kala itu. “Yang mimpin di depan itu, yang bajunya paling
beda dari yang lain tuh.. itu namanya mayoret atau gitapati”, begitu kata Ayah.
Wah bayangan ku terasa terlempar ke beberapa tahun yang akan datang; aku
bersama teman-temanku berjalan beriringan sambil menabuh berbagai alat marching
band di jalan yang sengaja di kosongkan dari pengendara, begitu riuh penonton
yang membidik di sisi kanan dan kiri jalan tersebut. It’s my fantasy world!
Masih
tentang dunia khayalku! Siapa yang tak tahu Riani Djangkaru? Aku mengenalnya
sebagai sosok gadis yang supel dan pemberani. Yaa usiaku saat itu sekitar 9
tahun dan ia mungkin sekitar 20an. Meski aku hanya bisa bertemu di layar kaca
tepatnya di Jejak Petualang, namun Riani layaknya telah mengajakku ke berbagai
tempat yang menantang menurutku. Tempat yang paling kuingat adalah ketika Riani
berpetualang ke pedalaman tanah Irian, pemukiman suku Dani. Disana ia dan juru
kameranya yang hanya berpakaian layaknya orang Indonesia pada umumnya, bisa
dibayangkan bagaimana kultur berbusana orang-orang Papua yang masih primitif
gitu? Ia sangat pandai bergaul dengan warga suku disana, bukan akting dan
fiktif, karena ia melakukannya sebagai seseorang yang adaptif. Kalau mereka
(warga suku Dani) sedang mencari ulat pohon sagu, maka ia pun ikut dan bahkan
makan ulat pohon sagu juga. Dan yang paling tak terkirai adalah ia turut
menari-nari sambil bernyanyi bersama mereka di saat upacara adat suku.
Hampir sama
dengan Riani yang membuatku kagum, Meutia Hafidz pun pernah menjadi seseorang yang
hadir dalam ‘pembangunan’ imajinasiku. Aku mengenalnya sebagai seorang jurnalis
dari Metro Tv. Ia kerap kali kulihat sebagai reporter di berita-berita bencana
secara live di lokasi kejadian.
Wajahnya terlihat tak segar karena tak mungkin berdandan dahulu di tengah
situasi bencana. Banjir, gempa dan tsunami menjadi laporan-laporan yang harus
ia beritakan kepada pemirsa. Di suatu ketika, ia bertugas untuk mewartakan
konflik yang sedang memanas di Irak, hmmm sekitar tahun 2005. Bukannya ia dan
seorang temannya (lupa namanya) yang melaporkan berita mengenai peristiwa
disana, justru mereka yang diberitakan di semua stasiun tv Indonesia bahkan
luar negeri pun. “Dua reporter Metro Tv disandera tentara Irak”, begitu judul
di setiap berita yang tersiar.
Riani dan
Meutia adalah dua sosok yang telah menghipnotis pikiranku sejak SD. Mereka
adalah pengantar yang ulung, mengantarkanku pada kepingan impian untuk
menjelajahi ke berbagai penjuru yang tak pernah kuinjak sebelumnya. Petualangan
Riani walaupun dengan perbedaan dari kebiasaannya namun ia tetap mampu berbaur
dengan warga suku Dani. Seringnya Meutia yang harus ditugaskan di lokasi
bencana sampai pada penyanderaannya oleh tentara Irak menjadi doronganku agar
jangan hanya berkubang di kandang sendiri, bahwa banyak sekali peristiwa di
luar sana yang harus diketahui. Dan mereka dua sosok yang masuk dalam daftar
orang-orang yang ingin kujumpai. Ya, RIANI DJANGKARU dan MEUTIA HAFIDZ! Semoga
Allah mengizinkan kesempatannya :)
***
“Sampaikan
salam, dari Dini yang merindukan perjalanan seantero Indonesia tercinta!”. Itu
yang sering kali menjadi pesan kepada teman yang hendak pulang ke kampung
halamannya atau mereka yang sengaja berlibur ke suatu tempat. Mereka terheran,
“ditujukan kepada siapa salamnya?”. Aku hanya menjawab dengan senyum. Ya,
menjadi penjelajah adalah sebuah keinginan yang selalu menggelayut dalam
obesesiku. Tentu perjalanan yang ingin kulakukan bukan semata untuk berlibur,
namun harus ada sesuatu yang aku “lakukan” dan “dapatkan” yang tak bisa dibeli
oleh materi.
Perbincangan
yang cukup menarik adalah jika membicarakan tentang ‘ada apa disana’. Memang
tak semua yang kutanyai itu dengan antusias menceritakannya, tidak seantusias
saat aku menanyakannya. Kalau sudah begitu, aku akan terus mengejar dengan
pertanyaan-pertanyaan yang memuaskan rasa penasaranku mengenai suatu tempat
dengan segala kandungan antroposentrisnya.
Salah satu
tempat yang membuat rasa penasaranku menyulut adalah pulau Belitong. Sejak
membaca tetralogi Andrea Hirata, khususnya Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi yang
banyak mengisahkan Belitong, secara tiba-tiba imanjinasiku tertendang ke sana.
Stimulus lebih ketika seorang kakak senior yang berasal dari Belitong
menceritakan keadaan alam dan budayanya yang begitu mempesonakan. Dan rasanya
ingin segera meloncat saat ia memperlihatkan foto SD Muhammadaiyah Gantong yang
diambilnya langsung, sekolah reyot yang menjadi tempat belajar Ikal dan
kawan-kawannya.
Huh, indah
sekali hidup dalam dunia imajinasi yang mengobarkan semangat untuk terus
menjelajah bumi Sang Pencipta. Sabang sampai Merauke, Talaud sampai Rote, hinga
ujung-ujung sana yang membentuk satu bundaran destinasi. Akankah kau menanti
kunjunganku?
Semoga rindu
yang membenam ini tak hanya milikku, sang pengkhayal..
Namun akan
terus menjadi mimpi-mimpi indah yang tak akan kubiarkan ia tenggelam oleh deru
kepayahan…
Semoga,
semoga, semoga. :)
Yogya, 18
April 2014
19.32

Tidak ada komentar:
Posting Komentar