Jumat, 18 April 2014

MY FANTASY WORLD: BUNDARAN DESTINASI



Mungkin memang aku ini seorang yang tinggi berangan, seperti yang mereka katakan. Mereka yang telah mengenalku dekat. Berangan telah menjadi bagian dari waktu yang telah kuhabiskan sejak kecil. Masa itu telah menjadi hal yang menyenangkan bagiku, setidaknya aku telah merasakan indahnya berselancar dengan imajinasiku yang sering kali diilhami dari kartun-kartun yang setiap hari libur kutonton dari pagi hingga menjelang siang.

Khayalan konyol pernah terlintas dalam pikiranku saat-saat usia SD awal. Aku pernah membayangkan serunya naik ayunan dengan sekencang-kencangnya sambil memejamkan mata, dalam gelapnya pejaman mata itu aku memasuki lorong sambil terbang ala superman, lalu tanpa disadari ternyata aku talah berada di puncak pelangi, di situlah tempatku untuk main ‘perosotan’. Aku dadah-dadah melambaikan tangan kepada teman-temanku yang tengah asyik bermain di atas awan. Mereka membalas lambaian tanganku dengan riangnya. Rasanya akulah paling bahagia karena bisa bermain di atas biasan cahaya yang warna-warni itu.

Juga pernah kubayangkan bagaimana teriakan penonton dan jepretan kamera ketika aku memimpin sebuah kelompok marching band. Ambisi itu muncul setelah kutonton pawai tujuhbelasan di alun-alun kecamatan kala itu. “Yang mimpin di depan itu, yang bajunya paling beda dari yang lain tuh.. itu namanya mayoret atau gitapati”, begitu kata Ayah. Wah bayangan ku terasa terlempar ke beberapa tahun yang akan datang; aku bersama teman-temanku berjalan beriringan sambil menabuh berbagai alat marching band di jalan yang sengaja di kosongkan dari pengendara, begitu riuh penonton yang membidik di sisi kanan dan kiri jalan tersebut. It’s my fantasy world!
 
Masih tentang dunia khayalku! Siapa yang tak tahu Riani Djangkaru? Aku mengenalnya sebagai sosok gadis yang supel dan pemberani. Yaa usiaku saat itu sekitar 9 tahun dan ia mungkin sekitar 20an. Meski aku hanya bisa bertemu di layar kaca tepatnya di Jejak Petualang, namun Riani layaknya telah mengajakku ke berbagai tempat yang menantang menurutku. Tempat yang paling kuingat adalah ketika Riani berpetualang ke pedalaman tanah Irian, pemukiman suku Dani. Disana ia dan juru kameranya yang hanya berpakaian layaknya orang Indonesia pada umumnya, bisa dibayangkan bagaimana kultur berbusana orang-orang Papua yang masih primitif gitu? Ia sangat pandai bergaul dengan warga suku disana, bukan akting dan fiktif, karena ia melakukannya sebagai seseorang yang adaptif. Kalau mereka (warga suku Dani) sedang mencari ulat pohon sagu, maka ia pun ikut dan bahkan makan ulat pohon sagu juga. Dan yang paling tak terkirai adalah ia turut menari-nari sambil bernyanyi bersama mereka di saat upacara adat suku.

Hampir sama dengan Riani yang membuatku kagum, Meutia Hafidz pun pernah menjadi seseorang yang hadir dalam ‘pembangunan’ imajinasiku. Aku mengenalnya sebagai seorang jurnalis dari Metro Tv. Ia kerap kali kulihat sebagai reporter di berita-berita bencana secara live di lokasi kejadian. Wajahnya terlihat tak segar karena tak mungkin berdandan dahulu di tengah situasi bencana. Banjir, gempa dan tsunami menjadi laporan-laporan yang harus ia beritakan kepada pemirsa. Di suatu ketika, ia bertugas untuk mewartakan konflik yang sedang memanas di Irak, hmmm sekitar tahun 2005. Bukannya ia dan seorang temannya (lupa namanya) yang melaporkan berita mengenai peristiwa disana, justru mereka yang diberitakan di semua stasiun tv Indonesia bahkan luar negeri pun. “Dua reporter Metro Tv disandera tentara Irak”, begitu judul di setiap berita yang tersiar.

Riani dan Meutia adalah dua sosok yang telah menghipnotis pikiranku sejak SD. Mereka adalah pengantar yang ulung, mengantarkanku pada kepingan impian untuk menjelajahi ke berbagai penjuru yang tak pernah kuinjak sebelumnya. Petualangan Riani walaupun dengan perbedaan dari kebiasaannya namun ia tetap mampu berbaur dengan warga suku Dani. Seringnya Meutia yang harus ditugaskan di lokasi bencana sampai pada penyanderaannya oleh tentara Irak menjadi doronganku agar jangan hanya berkubang di kandang sendiri, bahwa banyak sekali peristiwa di luar sana yang harus diketahui. Dan mereka dua sosok yang masuk dalam daftar orang-orang yang ingin kujumpai. Ya, RIANI DJANGKARU dan MEUTIA HAFIDZ! Semoga Allah mengizinkan kesempatannya :)

***

“Sampaikan salam, dari Dini yang merindukan perjalanan seantero Indonesia tercinta!”. Itu yang sering kali menjadi pesan kepada teman yang hendak pulang ke kampung halamannya atau mereka yang sengaja berlibur ke suatu tempat. Mereka terheran, “ditujukan kepada siapa salamnya?”. Aku hanya menjawab dengan senyum. Ya, menjadi penjelajah adalah sebuah keinginan yang selalu menggelayut dalam obesesiku. Tentu perjalanan yang ingin kulakukan bukan semata untuk berlibur, namun harus ada sesuatu yang aku “lakukan” dan “dapatkan” yang tak bisa dibeli oleh materi. 

Perbincangan yang cukup menarik adalah jika membicarakan tentang ‘ada apa disana’. Memang tak semua yang kutanyai itu dengan antusias menceritakannya, tidak seantusias saat aku menanyakannya. Kalau sudah begitu, aku akan terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan yang memuaskan rasa penasaranku mengenai suatu tempat dengan segala kandungan antroposentrisnya.

Salah satu tempat yang membuat rasa penasaranku menyulut adalah pulau Belitong. Sejak membaca tetralogi Andrea Hirata, khususnya Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi yang banyak mengisahkan Belitong, secara tiba-tiba imanjinasiku tertendang ke sana. Stimulus lebih ketika seorang kakak senior yang berasal dari Belitong menceritakan keadaan alam dan budayanya yang begitu mempesonakan. Dan rasanya ingin segera meloncat saat ia memperlihatkan foto SD Muhammadaiyah Gantong yang diambilnya langsung, sekolah reyot yang menjadi tempat belajar Ikal dan kawan-kawannya.

Huh, indah sekali hidup dalam dunia imajinasi yang mengobarkan semangat untuk terus menjelajah bumi Sang Pencipta. Sabang sampai Merauke, Talaud sampai Rote, hinga ujung-ujung sana yang membentuk satu bundaran destinasi. Akankah kau menanti kunjunganku?

Semoga rindu yang membenam ini tak hanya milikku, sang pengkhayal.. 

Namun akan terus menjadi mimpi-mimpi indah yang tak akan kubiarkan ia tenggelam oleh deru kepayahan…

Semoga, semoga, semoga. :)

Yogya, 18 April 2014
19.32

Tidak ada komentar:

Posting Komentar