Pernah dibantu seseorang saat sedang
sangat ‘kepepet’? pernah atau belum, kepepet atau tidak, sesungguhnya saat itu
kita pasti merasa sangat terbantu dan mungkin tak tahu harus membalas dengan
apa, bahkan lidah kelu karena hanya mampu mengucap ‘terima kasih’ saja.
Teringat sekitar empat tahun silam,
tepatnya saat saya masih muda.. hehe… Pagi itu saya berangkat sekolah dengan
keadaan sakit perut, keraguan untuk berangkat ke sekolah mencuat sejak di
rumah. Namun karena teringat ada tugas yang harus dikumpulkan, maka saya
paksakan diri untuk berangkat. Setelah perjalanan yang berjarak 5 KM dengan
menggunakan angkutan umum, saya turun di pertigaan jalan biasa pelajar sekolah
lain turun dari angkot juga. Menuju ke sekolah harus berjalan sekitar 7 menit
dengan kecepatan standar saya. Bisa sih sebenarnya naik angkot lagi hingga tiba
di depan sekolah, tapi saya lebih senang berjalan, karena kalau naik angkot
lagi malah lebih lama, macet, apalagi harus lewat pasar.
Dengan masih menahan sakit perut, saya
harus menyebarang di antara lalu lalang kendaraan. Mungkin karena konsentrasi
hilang, saya menerobos jalan tanpa tengak-tengok kanan kiri, baru beberapa
langkah akhirnya… sreeett… sepeda
motor yang cukup melaju kencang menyerempet tubuh saya yang “gemuk” ini (ehmm…
:D) saya tergeser paksa beberapa jarak dengan lengan bagian kanan yang
terdorong cukup hebat (menurut ukuran tubuh saya). Kaget bukan kepalang,
spontan yang terucap kalimat istighfar.
Hey what’s up, Dini? Tersadar bahwa ternyata detik-detik lalu saya
melenggang terlalu PeDe menerobos keramaian jalan raya. Tak ada yang dirasa terlalu
sakit, saya lihat kaca spion motor pengendara itu hanya bengkok, “Ma..ma..maaf,
Pak”. Hanya rona kekesalan yang terlukis di wajah bapak itu.
Kejadian itu menjadi pusat perhatian
para pengguna jalan yang saat itu tengah melintas, juga para penunggu angkot
yang bertebaran dimana-mana. Malu? Jangan ditanya :D Tiba-tiba ada bapak paruh
baya yang mendekat, “Neng, teu nanaon? Hayu atuh ka klinik bisi aya nu lecet”. Sambil
melihat keadaanku yang masih berdiri gemetaran. “Ah, teu kedah, Pak. Teu nanaon
da..” jawabku meringis. “Eh hayu, enya da ayeuna mah moal karasa, tapi bisi aya
nu barareuh engke teh.” Ia tetap peduli. “Moal, Pak.. bade ka sakola we, bilih
kasiangan”. Saya tetap menolaknya. “Oh enya atuh enggal ku bapa dijajap ka
sakola”. Tawarannya kali ini saya gubris. Menuju sekolah dengan sepeda motornya
yang sederhana, bapak itu ternyata kesal dengan ‘kelakuan’ pengendara yang
menyerempet saya, kira-kira begini bahasanya, “udah tau dipertigaan jalan,
banyak yang mau nyebrang juga, masih aja ngebut. Mana tanpa permisi dia
ninggalin gitu aja...”. Saya tak banyak komentar, malu, karena itu kesalahan
saya juga. Sampai di depan gerbang sekolah, “Pak, hatur nuhun nya, tos
ngarepotkeun.” “Enya neng, kin deui mah kedah ati-ati, nya…” pesannya. Senyumku
tersimpul. Entah harus berkata apa pada bapak ini atas kebaikannya.
Sambil berjalan menuju kelas, dari
hati, hanya mendo’akannya lah yang bisa saya lakukan sebagai wujud terima kasih,
berharap bapak baik tadi mendapat balasan yang berlipat dari-Nya. (eh, by the
way, sakit perutnya seketika hilang, lho! :D)
***
Itu hanya satu dari sekian banyak orang
yang pernah menolong saya. Berlandas ketulusan yang tertanam dalam diri mereka muncul
dari nurani yang murni. Sungguh tak bisa saya balas dengan tumpukan materi
berapa pun. Karena mereka menolong pada
saat yang Allah takdirkan masanya. Ya, mereka adalah para pahlawan yang Allah
tanamkan keikhlasan dalam hatinya. Pertolongannya terikat dengan sebuah waktu
yang tentu tak akan pernah bisa kembali terulang. Bahkan mungkin dengan mereka
tak akan pernah kembali bertemu untuk sekedar bertanya: “masih ingat saya?”, atau
mungkin pernah bertemu namun saya tak mengenali sosoknya.
Sekirannya itulah yang saya maknai
sebagai “yang tak akan pernah terbalas”. Mereka-meraka sering kali hanya muncul
dengan kita yang hanya pada satu momen; yang secara tak langsung mengajari kita
tentang apa dan bagaimana itu ‘harus’ dilakukan. Ia tak memandang hal itu
sebagai pengajaran yang harus diteladani, namun pengajarannya yang menembus
relung penyadaran kita. Merekalah guru yang menyegarkan, senyum dan kebaikannya
menyiratkan beribu pesan dan nilai yang mubadzir bila kita menutup batin untuk
mengambil apa yang diajarkannya itu.
Yogya, 8 April 2014
20.35
Tidak ada komentar:
Posting Komentar