Rabu, 09 April 2014

Yang Tak Akan Pernah Terbalas



Pernah dibantu seseorang saat sedang sangat ‘kepepet’? pernah atau belum, kepepet atau tidak, sesungguhnya saat itu kita pasti merasa sangat terbantu dan mungkin tak tahu harus membalas dengan apa, bahkan lidah kelu karena hanya mampu mengucap ‘terima kasih’ saja.

Teringat sekitar empat tahun silam, tepatnya saat saya masih muda.. hehe… Pagi itu saya berangkat sekolah dengan keadaan sakit perut, keraguan untuk berangkat ke sekolah mencuat sejak di rumah. Namun karena teringat ada tugas yang harus dikumpulkan, maka saya paksakan diri untuk berangkat. Setelah perjalanan yang berjarak 5 KM dengan menggunakan angkutan umum, saya turun di pertigaan jalan biasa pelajar sekolah lain turun dari angkot juga. Menuju ke sekolah harus berjalan sekitar 7 menit dengan kecepatan standar saya. Bisa sih sebenarnya naik angkot lagi hingga tiba di depan sekolah, tapi saya lebih senang berjalan, karena kalau naik angkot lagi malah lebih lama, macet, apalagi harus lewat pasar.

Dengan masih menahan sakit perut, saya harus menyebarang di antara lalu lalang kendaraan. Mungkin karena konsentrasi hilang, saya menerobos jalan tanpa tengak-tengok kanan kiri, baru beberapa langkah akhirnya… sreeett… sepeda motor yang cukup melaju kencang menyerempet tubuh saya yang “gemuk” ini (ehmm… :D) saya tergeser paksa beberapa jarak dengan lengan bagian kanan yang terdorong cukup hebat (menurut ukuran tubuh saya). Kaget bukan kepalang, spontan yang terucap kalimat istighfar. Hey what’s up, Dini?  Tersadar bahwa ternyata detik-detik lalu saya melenggang terlalu PeDe menerobos keramaian jalan raya. Tak ada yang dirasa terlalu sakit, saya lihat kaca spion motor pengendara itu hanya bengkok, “Ma..ma..maaf, Pak”. Hanya rona kekesalan yang terlukis di wajah bapak itu.

Kejadian itu menjadi pusat perhatian para pengguna jalan yang saat itu tengah melintas, juga para penunggu angkot yang bertebaran dimana-mana. Malu? Jangan ditanya :D Tiba-tiba ada bapak paruh baya yang mendekat, “Neng, teu nanaon? Hayu atuh ka klinik bisi aya nu lecet”. Sambil melihat keadaanku yang masih berdiri gemetaran. “Ah, teu kedah, Pak. Teu nanaon da..” jawabku meringis. “Eh hayu, enya da ayeuna mah moal karasa, tapi bisi aya nu barareuh engke teh.” Ia tetap peduli. “Moal, Pak.. bade ka sakola we, bilih kasiangan”. Saya tetap menolaknya. “Oh enya atuh enggal ku bapa dijajap ka sakola”. Tawarannya kali ini saya gubris. Menuju sekolah dengan sepeda motornya yang sederhana, bapak itu ternyata kesal dengan ‘kelakuan’ pengendara yang menyerempet saya, kira-kira begini bahasanya, “udah tau dipertigaan jalan, banyak yang mau nyebrang juga, masih aja ngebut. Mana tanpa permisi dia ninggalin gitu aja...”. Saya tak banyak komentar, malu, karena itu kesalahan saya juga. Sampai di depan gerbang sekolah, “Pak, hatur nuhun nya, tos ngarepotkeun.” “Enya neng, kin deui mah kedah ati-ati, nya…” pesannya. Senyumku tersimpul. Entah harus berkata apa pada bapak ini atas kebaikannya.

Sambil berjalan menuju kelas, dari hati, hanya mendo’akannya lah yang bisa saya lakukan sebagai wujud terima kasih, berharap bapak baik tadi mendapat balasan yang berlipat dari-Nya. (eh, by the way, sakit perutnya seketika hilang, lho! :D)

***
Itu hanya satu dari sekian banyak orang yang pernah menolong saya. Berlandas ketulusan yang tertanam dalam diri mereka muncul dari nurani yang murni. Sungguh tak bisa saya balas dengan tumpukan materi berapa pun.  Karena mereka menolong pada saat yang Allah takdirkan masanya. Ya, mereka adalah para pahlawan yang Allah tanamkan keikhlasan dalam hatinya. Pertolongannya terikat dengan sebuah waktu yang tentu tak akan pernah bisa kembali terulang. Bahkan mungkin dengan mereka tak akan pernah kembali bertemu untuk sekedar bertanya: “masih ingat saya?”, atau mungkin pernah bertemu namun saya tak mengenali sosoknya.

Sekirannya itulah yang saya maknai sebagai “yang tak akan pernah terbalas”. Mereka-meraka sering kali hanya muncul dengan kita yang hanya pada satu momen; yang secara tak langsung mengajari kita tentang apa dan bagaimana itu ‘harus’ dilakukan. Ia tak memandang hal itu sebagai pengajaran yang harus diteladani, namun pengajarannya yang menembus relung penyadaran kita. Merekalah guru yang menyegarkan, senyum dan kebaikannya menyiratkan beribu pesan dan nilai yang mubadzir bila kita menutup batin untuk mengambil apa yang diajarkannya itu.

Yogya, 8 April 2014
20.35

Tidak ada komentar:

Posting Komentar