Senin, 08 Desember 2014

AKU INGIN MENJADI SEORANG IBU. SEUTUHNYA!


republika.co.id
Jemariku memang sudah gatal ingin segera meraih netbook sejak kemarin, ingin menguraikan apa yang sedang kupikirkan dan hal ini menjadi ambisiku di suatu saat nanti. Tak lain adalah menjadi seorang ibu seutuhnya. Keinginan itu kembali hadir lebih menggema dalam ruang harapanku saat ini. Itulah pengaruh dari mata kuliah Fiqih pada hari Sabtu, 6 Desember lalu yang membahas tentang “Kriteria Wanita Shalihah”, tanpa kusia-siakan agar fokus mencerna isi presentasi yang disampaikan oleh ketujuh temanku, yakni Teh Iim, Nisa, Dika, Silvi, Isma, Hasbi, dan Bang Hendri. Akhir-akhir ini aku memang sedang ingin melahap ‘nutrisi’ dengan tema semacam itu. Makanya aku dengan sigap duduk di barisan kursi paling depan. “Ruang diskusi ini akan menjadi kesempatan yang strategis untuk menambah nutrisi yang kuinginkan,” pikirku pada saat itu.

Hal yang membuatku tertarik untuk digali adalah mengenai peran perempuan sebagai seorang ibu.  Dari keseluruhan pemaparan setidaknya aku bisa menangkap perspektif teman-teman presentator, yakni untuk menjadi perempuan yang shalihah adalah terus mengupayakan agar senantiasa mentaati Allah dan Rasulnya. Dengan cara apa? Dengan cara mengembalikan diri pada fitrah sebagai perempuan, khususnya untuk mendidik anak secara lahir dan batin. Ya! Ibadah sebagai perwujudan rasa cinta kepada Allah dan Rasul bukan saja yang bersifat mahdah, melainkan seperti halnya menyuapi makan, memandikan, mengantarkan ke sekolah, menemaninya mengerjakan PR, merangkulnya saat mereka dirundung takut dan cemas, dan sebagainya, bukankah itu juga ibadah? Kalau hal demikian adanya, kita mencintai anak dengan setulus hati dengan motivasi karena Allah dan Rasul memerintahkannya untuk ditaati. Pada akhirnya kita memberi dan memperoleh cinta yang berlipat sebagai seorang ibu, bukan?

Posisi dan peran perempuan terlebih sebagai ibu adalah pemegang andil menjadi madrasatul ula dalam keluarga untuk generasi selanjutnya. Yang pada dasarnya melalui peradaban lingkup kecil (keluarga) merupakan langkah awal mempersiapkan tunas-tunas baru demi memperbaiki akhlak anak-anak sebagai cerminan suatu generasi yang bisa kita lihat dalam kenyataan kian memprihatinkan. Hal tak kalah urgen, yang perlu ditanamkan pada perempuan adalah penyadaran akan berharganya peran perempuan dalam memberdayakan generasi yang terus akan melaju sebagai generasi pembangun yang akan terus berkelanjutan. Buang jauh-jauh pikiran yang hedonis manakala apabila perempuan hanya dikungkung di rumah akan membuatnya apatis dan tertinggal. Sungguh, banyak pahala yang mampu kita regup lebih banyak menjadi seorang ibu yang sesungguhnya. Bukan menjadi ibu yang setiap harinya pulang-pergi demi urusan kantor sedangkan anaknya cukup mendapat kasih sayang dari seorang pengasuhnya.

Harapan akan kemapaman akhlak anak-anak kita jangan sampai terputus hanya karena ambisi kita untuk berkiprah di luar rumah mengalahkan motivasi untuk mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Kesungguhan pada harapan itu harus tercipta mulai sejak saat ini, bukalah surah Al-A’raf ayat 181:
Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.

(sekali lagi akan kukatakan): kesungguhan pada harapan itu harus tercipta sejak saat ini. Tidak banyak waktu untuk memulai dari diri kita terlebih dahulu. Bersegeralah untuk berbuat  jika sinyal-sinyal hidayah-Nya telah kita rasakan dalam lubuk hati. Tak rugikah jika hidayah itu menghilang tak kembali?

Wahai Dzat Yang Maha Benar, Maha Kuasa…
Mampukan kami mendapat kepantasan dari pandangan-Mu. Terpujilah Engkau atas segala limpahan karunia yang tiada tara, nikmat-Mu yang disematkan kepada makhluk yang bernama ‘perempuan’ semoga tetap melekatlah pada diri ini dengan seutuhnya. Perkenankalah rahim-rahim kami ini melahirkan generasi yang tunduk patuh hanya pada-Mu, mampukan kami untuk memperkenalkan kepada anak-anak kami segala hal tentang-Mu.
Di atas kami berpijak dan di bawah nikmat-Mu berupa gerimis ini, semoga Engkau perkenankan bumi dan langit seisinya turut berdo’a untuk harapan kami yang satu ini. Aamiin…

Terima kasih kepada teman-teman yang telah membagi hikmah padaku. Semoga semangat kita tiada pernah surut untuk belajar selalu, dilapangkan hatinya dan dimudahkan dalam berfikir.


Dalam penuh pengharapan…
Yogya, 7 Desember 2014
17.16

Jumat, 05 Desember 2014

Yang Terekam Malam Ini


www.santosaisme.com

Rintik hujan telah menyudahi aktivitasnya untuk menyiram tanah di bumi ini sejak sore tadi. Hanya bau basah yang menyisakan di malam ini. Terjangkau oleh indera pendengaranku hanya nyanyian jangkrik yang mengiring larutnya malam hingga alunannya menjadi pengantar tidur nanti.  Sungguh syahdu fenomena alam yang Ia padukan dalam setiap malam-malam gelap di tengah musim hujan ini.
  
Aku hanya seorang diri di kamar. Cekikik tawa juga mewarnai seantero rumah ini, adalah Lala dan Naili yang entah sedang membicarakan apa sampai tiada henti tawanya menggema di kamar sebelah sambil menonton drama korea kegemaran mereka. Wiwik dan Faul sepertinya sudah terlelap melandaskan ke waktu istirahatnya, mengantar mereka pada mimpi-mimpi yang menyelimuti di tengah dingin malam gelap. Dua temanku itu hampir dipastikan akan tidur dalam waktu yang berbarengan. Satu lagi, Kiky yang sedang sibuk latihan di Drum Corps, ia harus pulang malam dan jika dia lupa membawa kunci rumah maka dia akan menggedor-gedor pintu dari luar, akhirnya kami yang sudah tidur terbangun kaget karena ulahnya.

Kini aku hidup bersama mereka, dengan segala sifat dan karakter mereka masing-masing, serta dengan apa-apa pembelajaran yang kerap kali mengingatkan kealfaanku dan mengajarkan karena kebodohanku. Terlebih jika masih ada Mba Mumun, kakak senior kami yang baru menyelesaikan tugas PPLnya dan sekarang pindah kost ke dekat UGM. Dia banyak mengayomi, mengajarkan kami bagaimana mengurus rumah sampai memberi wejangan bagaimana bersosialisasi dengan warga sekitar. Selain itu, kepindahan mba Mumun membuat seisi rumah ini merasa kesepian.

Malam ini, aku memaksakan menulis. Tak peduli dengan isi yang terurai dari benak dan pikiranku, meski mataku telah memberi sinyal-sinyal memberatkan. Rasanya lelah sekali aktivitas yang kujumpai hari ini, sejak pukul delapan aku dan teman-teman IMM menuju Pabrik Bakpia Pathok 25 untuk melakukan kunjungan industri, karena memang inilah salah satu program kerja kami sambil mengajak kader baru untuk refreshing. Seusai dari sana, istirahat sebentar di Sekretariat sambil duduk–duduk mencicipi bakpia yang kami beli, segera membuang kemalasan karena merasakan teriknya siang dan berjalan menuju kelas untuk kuliah Psikologi Klinis hingga sore hari. Bergegas pulang dan tak mengiyakan pertanyaan Lala apakah akan ikut diskusi soal kenaikan harga BBM atau mau langsung pulang. Aku tegas ingin segera pulang, istirahat dan makan. Aku pun tak menghiraukan ajakan teman-teman di sms untuk hadir di diskusi tersebut. Entah apa yang diinginkan tubuhku ini pasca opname dua pekan lalu. Ia menjadi mudah lelah dan tak tahan dengan aktivitas padat. Padahal sebelumnya aku bisa mengikuti berbagai kegiatan di kampus dari pagi hingga malam, tanpa dirasa lelah bahkan rasa lapar pun seringkali terkesampingkan. Mungkin kondisi tubuhku yang saat ini payah menjadi penebusan atas tindakanku yang kemarin-kemarin terlalu memporsir tanpa mengindahkan hak-haknya secara adil. Tak bisa kusangkal, itulah yang menjadi pembelajaran yang berarti untukku. Tidak menunda-nunda waktu makan dan mengurangi waktu begadang, setidaknya dua hal itu yang harus kuikhtiarkan demi membenahi kesehatanku.

Tapi di samping kepayahanku terhadap aktivitas yang harus kulonggarkan, aku menjadi lebih suka menghabiskan waktu untuk membaca buku, khususnya buku yang berisi nutrisi untuk memulihkan keadaan jiwaku yang labil dan sering ragu-ragu. Kali ini kupikir aku harus mengulang untuk membaca buku yang dipersembahkan oleh Derry Oktriana Syofiadi, Selamat Tinggal Tuhanku Aku Perempuan Merdeka. Di dalamnya Derry menguraikan berbagai fase yang telah ia tempuh menuju hijrahnya secara totalitas. Ia pernah dihujat dan cemooh oleh orang di sekitarnya yang disebabkan oleh perubahan dirinya, dari seorang perempuan yang tak menghiraukan batas-batas dan aturan agama menjadi sesosok muslimah yang mengindahkan segala aturan syar’i. ia tetap terus meneguhkan hatinya yang koyak dan luluh lantak, karena ia yakin bahwa Allah senantiasa selalu bersamanya, dekat dengannya. Kalau dilihat dari judulnya bisa dipersepsikan agak kontroversial, tetapi maksud Derry tuhan yang yang dimaksud dalam judul itu adalah segala sesuatu yang dituhankan manusia padahal nafsu kejahiliyahan lah yang menyetir arahnya. Bukan Tuhan Sang Pemilik Keabadian.

Aku membaca tulisannya atau lebih tepatnya adalah diary nya bahkan sampai merasa tersindir, boleh jadi aku pun mengalaminya namun rasa keangkuhanku selalu membuat pembelaan diri yang melanggengkan pengakuan sebagai manusia yang lemah. Tapi memang banyak hal yang harus kucontek dari Derry, pengalamannya dalam memerangi nafsu kejahiliyahan, menguatkan diri sedaya upaya untuk tidak tergoyahkan karena cibiran dan hujatan orang-orang, dan yang paling penting adalah mengembalikan segala perkara kepada Dzat yang tak akan pernah tidur, selalu ada untuknya di kala bersedih dan senang. Kini Derry telah bangkit dengan hati yang baru dan utuh untuk dikembalikan seluruh pengabdian hidupnya di jalan dakwah.

Mungkin aku sudah mulai jatuh hati pada Derry, kendati belum pernah bertatap muka dengannya. Namun perjalanan hijrahnya yang totalitas telah menghipnotisku. Tapi setelah itu kenapa aku masih saja berdiam diri? Masih saja mempertimbangkan apakah aku bisa seperti Derry yang telah memenangkan jalan kebahagiaannya atau tidak? Dengan sikap yang seperti itu membuatku takut, aku tak ingin menjadi manusia yang pandai bercakap tapi tak mampu melakukan apa yang aku katakan. Naudzubillah…

Ya Rabbana, Yang Maha Kuat, kuatkan aku mengumpulkan keberaniaan untuk menyegerakan gerakan hijrah dalam diriku yang lemah ini. Rengkuhlah aku dalam pelukan-Mu, tuntunlah tanganku agar siap menyambut hidayah-hidayah yang akan Kau turunkan padaku. Mudahkalnlah jalannya.. dan tolonglah aku untuk selalu memproteksi lisan, pikiran dan hati dari segala hal yang Kau murkai. Semoga Engkau pun berkenan bumi dan langit ini turut mendekapku dalam do’a-do’anya yang dipanjatkan demi manusia lemah ini.
Terima kasih ya Allah untuk hari ini.
Satu pintaku lagi, bangunkan aku dari tidurku nanti malam ketika Kau hadir ke bumi ini yaa (^_^)

Yogya, 5 Desember 2014
21.33

Rabu, 22 Oktober 2014

Nasihat untuk Diri yang Bernama Dini

Seribu langkah kaki yang telah kau tempuh sejak masa itu telah mengantarmu ke sudut kota. Kota yang kau pijaki tanpa mimpi dan angan panjang sebelumnya. Dimana disanalah lambat laun kau membuat sebuah penegasan pada diri sendiri tentang hakikat menjadi diri yang tak akan pernah sempurna dan penuh teka-teki, begitu katamu. Termasuk tentang waktu yang tak pernah terbentik kala itu yang ternyata di tanah inilah yang mesti kau jajaki.
Banyak yang terjadi pada dirimu di atas tanah pijakmu kini, entah pijakmu kini masih menuju pada segala ambisi yang kau fantasikan sejak dulu, ataukah justru menarik diri dari ambisi itu? Atau mungkin motivasinya telah lenyap yang dulu pernah kau tulis nyata di atas kertas putih? Kau ingat, kata-kata yang kau tulis itu sebuah uraian setelah air mata menggenang dan tertumpah dalam buaian Bunda?

gstatic.com
Sedikit dan lambat laun kau menyadari akan segala keinginan yang tak akan pernah sejati dan bernilai luhur, kecuali jika ianya disejajarkan dengan apa yang diharapkan lingkunganmu. Dulu kau begitu egois, cita-citamu berlandas nafsu yang seakan kaulah satu-satunya yang bisa melakukannya, kau mengharap sanjungan dan dambaan dari setiap orang yang mengenal. Itu semua tanpa kau perhitungkan secara realistis dan penuh ambisius.

Kau sedikitnya telah membaca tentang berbagai kejadian yang di depan matamu, yang terjadi menimpa dirimu, baik memberi garis kegembiraan, maupun harus derai yang tertumpah di kedua sudut mata. Semua telah memberi pelajaran padamu, membeberkan tentang segala proses yang sudah seyogyanya terjadi, dan telah kau sadari penuh bahwa itu adalah titian jalan menuju pemahaman dari-Nya. Meski tak langsung kau temukan tafisrannya untuk dimaknai dalam tindak nyata.

Semua menuju proses, proses itu menuju titian kedewasaan dan kematangan dirimu, walaupun mungkin tak kau yakini sepenuhnya bahwa hal tersebut telah menjadi sesuatu yang diharapkan sekitarmu. Namun setidaknya telah kau upayakan untuk menemukan inti dirimu yang sejati namun tak sempurna itu. Cukuplah kau menjadi dirimu yang utuh begitu.

Jangan lepaskan motivasimu untuk belajar selalu pada seekor kupu-kupu. Jangan lupakan esensi jati dirinya yang mengawali hidupnya tak seindah awal ketika ia dihidupkan dalam keadaan ulat, menjijikan dan dihindari sekitarnya. Namun lihatlah dengan proses menuju keindahannya itu, kupu-kupu mampu dikagumi dan memberi pelajaran yang penting jika manusia memikirkan tahapan hidupnya tersebut.

Kau tetaplah menjadi kau seutuhnya. Meski kadang sekitarmu memulukkan dirimu menjadi begini dan begitu. Memaksamu agar tak sekehendak dengan dirimu yang sejati, tetapi cukuplah dengarkan mereka, ambil segala hal yang baik-baik saja. Dan perlakukanlah sebagaimana kau sukai mereka memperlakukanmu.

Sekarang, kau mulai berpikiran tentang kemandirian. Kemandirian yang seharusnya dibekali dengan mental yang matang dan kuat. Kemandirian yang akan membawamu menuju lingkup hidup baru, hidup bersama seseorang yang kau putuskan pada detik itu adalah selamanya akan meniti hidup bersamamu, bersamanya akan menuju keabadaian atas izin-Nya. “Mau cepat atau nanti-nanti, cukuplah aku fokus dengan segala persiapan yang harus ditempuh. Mental oke dan sederet upaya praktis sebagai wujud melatih diri mulailah dipersiapkan sejak saat ini,” hatimu mendikte.

Dulu, mana ada dirimu yang memikirkan sampai jauh semacam itu? Bukankah hal itu adalah hasil dari proses kau mencari pembelajaran, karena Ia Yang Maha Mengajarkan telah membuka mata dan pikiranmu untuk secara lebih luas meregup hikmah. Semoga selalulah Ia menawarkanmu untuk terus mengambil segala hikmah yang di hari kemudian barulah kausadari kembali, kau telah berproses menemukan “dirimu yang sejati namun tak sempurna” itu.
Saat ini juga, selalulah beri’tikad agar tak ingin kehilangan motivasi dan misi. Keduanya hanya kau yang membentuk, kau yang menjalani, dan hanya untukmu. Sudahi segala bentuk kemanjaanmu yang hanya membuatmu jatuh melemah. Cukuplah tangismu hanya akibat dari ‘membaca’ keprihatinan sekitarmu yang harus kauperbuat lebih. Cukuplah kau hanya menjadi hamba Sang Maha Perkasa. Tanggalkan segala kebodohan yang membenamkanmu pada kekufuran yang sering tak kausadari. Mulailah belajar lagi dan lagi mensyukuri segala nikmat-Nya yang tak akan pernah terbilang takarannya.

Selamat berjuang untuk Dini Fitrah Eristanti! J


“Allah, perkenankanlah kami untuk belajar selalu. Dengan segala cara apa yang Kau kehendaki.”

17 Oktober 2014
23.21

Kamis, 01 Mei 2014

HUMANIZING HUMAN

Humanizing human. Ya, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Pendidikan adalah proses panjang untuk mengaktualisasikan seluruh potensi diri manusia, sehingga seluruh proses kemanusiaannya menjadi aktual. Konon, melalui dunia pendidikan lah banyak orang yang memiliki pandangan bahwa pendidikan sebagai wahana penemuan insan-insan pembaharu.

Mereka tak sembarang mengangkat spekulasi semata, namun kenyataan lah yang mengangkat harapan yang membumbung tinggi tatkala sebuah sistem berada di ambang ‘wajah yang kelam’. Padahal harapan banyak orang adalah bahwa dunia pendidikan menjadi satu-satunya wahana dalam menggulirkan upaya ‘memanusiakan manusia’.

Pendidikan bukanlah sebatas pergulatan sosial dalam arena sekolah saja. Pendidikan harus tumbuh dari dalam diri, harus ada pengantar bagaimana jiwa didikan tersebut terlahir dari motivasi murni agar insan-insan pembaharu ini mampu dan siap dididik, hingga secara perlahan mampu mendidik dirinya sendiri tanpa terdikte. Peran keluarga lah yang menjadi pembuka kepekaan anak agar tidak saja menerima pengajaran atau sumber pengetahuan yang diberikan kepadanya, namun juga memiliki motif untuk mengejar pengetahuan secara pribadi.

tempe.wordpress.com
Peran keluarga dalam kehidupan bermasyarakat memiliki andil besar dalam mempersiapkan anak secara utuh menuju dimensi spiritual dan emosional, sebab dari lingkup rumah tersebut menjadi sumber peradaban untuk mengawali penanaman nilai-nilai pendidikan yang sesungguhnya. Adapun lembaga pendidikan seperti sekolah, hanyalah tempat pengembangan orientasi anak dalam mengejar apa yang bisa didapatkan secara lebih dari pendidikan dalam keluarga. Kedua lingkungan (keluarga dan sekolah) akan menggiring perjalanan pendidikan yang sesuai dengan apa yang diharapkan jika kedua pilar tersebut tidak terpisah dalam pelaksanaannya. Apatis bukanlah zamannya lagi hari ini, ketika orangtua menyerahkan anaknya begitu saja seperti kertas putih kepada sekolah. Maka tetaplah, keluarga merupakan pemberi fondasi utama bagi anak.

Carut marut wajah pendidikan bangsa ini sesungguhnya mungkin saja tak bisa dipungkiri dikarenakan kesalahan pemahaman dalam pemaknaan ‘pendidikan’ itu sendiri. Berbagai kasus yang memberikan noda hitam dalam wacana pendidikan menjadi PR kita bersama untuk memberbaiki dan membentuk insan-insan pembaharu yang akan mengisi peradaban selanjutanya. Tak pernah ada yang terlambat selama kita masih menaruh optimisme dalam setiap hal yang harus terus diperbaiki. Kita bisa, Indonesia bisa!

Selamat HARDIKNAS ^^

Jumat, 25 April 2014

Ramai Membicarakan Nikah, Kenapa???

Setahun terkahir ini pembicaraan soal (me)nikah tak pernah habis dari jagad perbincangan antara saya dan teman-teman. Kerap kali saya yang lebih cuek untuk membuntuti perbincangan ini memaklumi karena usia mereka yang menginjak dua dasawarsa, bahkan ada yang lebih, “mungkin karena mereka lebih dewasa, wajar saja jika orientasinya sudah mengarah ke situ,” dalam benak saya. Saya sendiri yang mereka anggap sebagai ‘bocah’, awalnya merasa suntuk kalau sudah menyerempet-nyerempet ke persoalan keinginan untuk menikah; katakanlah dengan pria yang begini dan begitu, mahar yang akan diajukan, konsep acara walimahnya, sampai tempat tujuan untuk dijadikan tempat bulan madu. Duh, serasa segera mengepakkan sayap menuju awan-awan imajinasi :D *uhuuuyy
 
Hampir setiap hari saya tak pernah tidak berkomunikasi dengan teman-teman, alhasil mengenai apa pembicaraan mereka melekat dalam diri saya yang berulang kali mendengar keseruan topik perbincangan. Saya tak dapat menghindar lagi untuk tidak mempedulikan trend topic pada musim ini *ceilee… Saya sendiri terkadang menjadi investigator diri sendiri kenapa bisa ikut antusias membicarakan hal-hal yang sebelumnya kurang saya lirik. Dalam perenungan itu, saya teringat Ibu yang pernah mengatakan bahwa manusia itu selalu jalan bergandengan dengan waktu, dalam kurun waktu tersebut tidak mungkin ia tidak mengalami perubahan, mungkin perubahan kedewasaan  seiring menyempit batas usianya. 

Jadi kalau sudah tertarik membicarakan soal menikah itu tanda kedewasaan? “Usia kamu sekarang ya memang saat-saat ‘dilingkari’ oleh hal semacam ini”, jelas Ibu ketika saya mengutarakan trend topic yang ramai diperbincangkan. (padahal menjadi dewasa adalah fase yang ‘mengerikan’ sepanjang arah berpikir saya selama ini... hehe). Kemudian panjang kali lebar sama dengan luas, arahan Ibu yang membuat saya tertidur pulas saat itu :D

Pembentukan framing tema menikah lama-lama menjadi hal yang menarik dan tak pernah habis sepertinya. Benar begitu? Atau saya saja yang lebay? Entahlah, saya sedikit banyaknya belajar dari cerita teman dan mbak-mbak yang sudah dilamar dan menikah. Penuturan demi penuturan mereka menyiratkan satu motivasi tersendiri bagi saya yang sering sekali labil :D Kecocokan mereka dengan pasangannya yang telah menikah menjadi kesimpulan dalam pikiran saya: ‘siapa pasangan kita adalah diri kita’. Dan rentetan pelajaran lainnya yang mulai harus saya pahami sekarang ini. Bukan sebatas memahami urutan dan teknis acara menuju ijab qabul saja, namun lebih jauh setelah keputusan kedua saksi menyatakan ‘sah’, yakni fiqih munakahat, psikologi parenting, dan juga manajemen keuangan. BELAJAR dan PERSIAPKAN! :D Iya sih, tapi begitu ditanya “kapan mau nikah?” seketika menjadi kikuk.. krik, krik, krik… :D :D “Insya Allah, nanti…” *keep smile

Akhirnya seiring proses keheranan saya itu, membuka pikiran saya, lagi-lagi agar tidak menutup mata dan telinga untuk memahami sesuatu hal. Dan… memutuskan menuju (me)nikah adalah bukan hal teknis yang mudah layaknya menghitung kancing atau mengocok arisan..hehe. Walaupun itulah bagian dari fitrah sebagai manusia, bagian yang menjadi kodrati dalam diri setiap insan. 

Perbicangan yang marak tersebut tentu bukan pembicaraan yang kosong tanpa pelajaran yang bisa dipetik. Namun menjadi awal keberangkatan kegalauan saya sampai harus menuliskannya disini :D :D