Belakangan
ini kita mungkin merasa geram, kesal, marah, ‘gregetan’ atau pun sejenisnya. “Dinda, ABG yang tak kenal empati”, begitu tagline
di beberapa berita online. Tentu ketenaran Dinda bukan berarti prestasi
akademik atau pun softskillnya yang patut
ia banggakan. Melainkan ocehannya di Path yang menyedot perhatian sampai
statusnya tersebut dicapture dan
kemudian diunggah ke seluruh penjuru jejaring sosial. Berbagai justifikasi dari
pengguna jejaring sosial menghujaninya. Betapa tidak, kekesalan Dinda yang ia
tumpahkan itu begitu congkak dan memperlihatkan arogansinya sebagai remaja yang
individualis. Berikut ucapannya yang ia posting di Path:
"Benciii sama ibu-ibu hamil yang tiba-tiba minta duduk. Ya gue
tahu lw hamil tapi plis dong berangkat pagi. Ke stasiun yang jauh sekalian biar
dapat duduk, gue aja enggak hamil bela-belain berangkat pagi demi dapat tempat
duduk. Dasar emang enggak mau susah.. ckckck.. nyusahin orang. kalau enggak mau
susah enggak usah kerja bu di rumah saja. mentang-mentang hamil maunya
dingertiin terus. Tapi sendirinya enggak mau usaha.. cape dehh,"
bagaimana
rasa geram tak tersulut? Tanpa berpikir panjang ABG ini menuliskan rasa
sebalnya di ruang yang siapa pun orang bisa mudah mengetahuinya, terlepas si
ibu hamil tersebut tahu atau tidak, apa masih bisa dibenarkan tindakan Dinda
ini? Yang lebih memegalkan adalah beberapa temannya justru mendukung Dinda, ada
yang memberi saran supaya pura-pura tidur sambil pasang earphone, menyalahkan ibu-ibu hamil yang memaksakan kerja, bahkan
ada yang menyuruh agar ibu-ibu hamil itu resign
dari pekerjaannya. Ckckckck…
Mengetahui
kalau status beserta komentar-komentarnya
menjadi perbincangan di media sosial, Dinda menanggapinya dengan kata-kata yang
menantang tanpa sedikitpun merasa malu karena ulahnya yang menyedot perhatian,
bahkan semakin memperlihatkan begitu individualis…
"Path gw nyebar gara-gara statement ibu hamil ya. ayo monggo
yang judge gw ngerasain dulu tiap hari naik kereta terus tiap hari berangkat
abis subuh cuma biar dapat tempat duduk. emang lo semua pada ngerti kaki gw pincang gara-gara geser tulangnya. gak kan. makanya gue bela-belain berangkat jam 5 pagi buat
dapet tempat duduk. eh tiba-tiba ada ibu hamil baru masuk kereta jam 7 pagi.
gue udah lari-larian jam 5 pagi jangan pada maunya cuma dingertiin doang para
ibu. emang gue belum hamil tapi kaki gue sakit aja gw ngerti ga mau nyusahin
orang kok. plis sama-sama dong kita saling ngerti jangan mau enaknya doang ya
ibu-ibu. ayo yang ngejudge ikut saya ya berangkat dari rumah saya jam 5 naik
kereta tiap hari dari rumah saya 1 kali naik ojek trus 2 kali naik angkot lho
ke stasiun. ikutin aja rutinitas saya tiap hari kalau enggak ada komen apa-apa
berarti saya yang berlebihan. hehe,"
Oiya, banyak juga kok ibu hamil yang gue lihat berangkat pagi
juga. nah kenapa enggak mencontoh mereka. mereka aja bisa kok. kalo enggak mau
nyusahin enggak usah minta tempat duduk diem aja. hahahaha.. dasar pemalas. itu
buktinya ada kok yang enggak pemalas. respect saya kepada ibu hamil yang
mandiri dan enggak manja!!!! be tough girl!
***
Duh, duh,
Neng… *gelenggeleng*. Oke, KRL memang fasilitas publik, siapa pun bisa
memanfaatkannya, karena hal itu menjadi hak kita. Ya kalau mau hitung-hitungan
siapa yang menyusahkan, itu lebih tidak ‘manusia’. Tapi, bisakah kita merelakan
sedikit hak kita hanya untuk memberikan tempat duduk yang sudah jelas lebih
urgen daripada tetap mempertahankan kegoisan kita?
Mungkin kau
memang sudah lelah, Dinda… kau setiap hari hilir mudik bersahabat dengan
padatnya perkotaan yang membuatmu begitu angkuh, sampai kau bilang kakimu
pincang-pincang, kau kebut waktu dari jam lima shubuh hanya untuk mendapat
tempat duduk tanpa ingin berbagi dengan penumpang lain yang kau sebut manja dan
pemalas itu.. dan saya tak sepertimu yang merasakan hal serupa; atmosfer
perkotaan yang kerap kali saya benci.
Kalau memang
benar kata salah satu psikolog di media online, "Kemungkinan besar
pergaulan atau bahkan keluarganya bermasalah," itu bukan salahmu seutuhnya.
Ataukah kau merasa difasilitasi dengan adanya gadget yang setia menjadi tempat keluh kesahmu, itu pun bukan
salahmu, mengapa dunia ini cepat sekali berkembang sampai dengan ajaibnya kau
dibuatnya begitu popular dalam waktu yang sangat singkat?
Namun saya
berusaha tak memandangmu sebagai ABG yang sepenuhnya bersalah. Kau telah
memberikan petikan penyadaran untuk ‘membumikan’ rasa empati itu. Rasa yang
nampaknya semakin pudar, tergerus oleh keangkuhan duniawi yang merajai nafsu diri
kita. Semoga yang merasa geram lewat bully-bully
yang pedas padamu tak hanya memaniskan ‘empati’ itu hanya di bibir saja. Tapi
kami mampu memahami tentang rasa empati dan mengerti pengaplikasiannya. Terima
kasih kau sudah menampakan diri di akhir-akhir ini, mungkin begitulah wajah
dari kita semua yang miskin rasa empati.
Akhirnya
sore tadi kau memohon maaf, do’amu menjadi do’a kita bersama, semoga! Dan
menjadikan kita semakin bijak apa yang perlu kita tulis di media sosial, dan
yang terpenting adalah sensitifitas empati kita yang perlu diasah lagi. That’s
all, Dinda… semoga kita bisa berjumpa :)
"Terima kasih ya komen-komennya mba dan mas. saya sangat
berterima kasih dibukakan mata saya atas pelajaran hidup saya ini. semoga saya
bisa menjadi manusia lebih baik. aminnn. saya ingin meminta maaf setulus hati
saya kepada rekan-rekan sekalian. karena perkataan saya yang tidak berkenan.
saya harap pintu maaf dibukakan untuk saya. sekali lagi terima kasih ya
rekan-rekan. dan saya meminta maaf sepenuh hati," tulisnya
sebagai permohonan maaf.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar