Jumat, 18 April 2014

DINDA, DIMANAKAH EMPATIMU? (Untuk Kita Semua)

Belakangan ini kita mungkin merasa geram, kesal, marah, ‘gregetan’ atau pun sejenisnya. “Dinda, ABG yang tak kenal empati”, begitu tagline di beberapa berita online. Tentu ketenaran Dinda bukan berarti prestasi akademik atau pun softskillnya yang patut ia banggakan. Melainkan ocehannya di Path yang menyedot perhatian sampai statusnya tersebut dicapture dan kemudian diunggah ke seluruh penjuru jejaring sosial. Berbagai justifikasi dari pengguna jejaring sosial menghujaninya. Betapa tidak, kekesalan Dinda yang ia tumpahkan itu begitu congkak dan memperlihatkan arogansinya sebagai remaja yang individualis. Berikut ucapannya yang ia posting di Path:
 
"Benciii sama ibu-ibu hamil yang tiba-tiba minta duduk. Ya gue tahu lw hamil tapi plis dong berangkat pagi. Ke stasiun yang jauh sekalian biar dapat duduk, gue aja enggak hamil bela-belain berangkat pagi demi dapat tempat duduk. Dasar emang enggak mau susah.. ckckck.. nyusahin orang. kalau enggak mau susah enggak usah kerja bu di rumah saja. mentang-mentang hamil maunya dingertiin terus. Tapi sendirinya enggak mau usaha.. cape dehh,"

bagaimana rasa geram tak tersulut? Tanpa berpikir panjang ABG ini menuliskan rasa sebalnya di ruang yang siapa pun orang bisa mudah mengetahuinya, terlepas si ibu hamil tersebut tahu atau tidak, apa masih bisa dibenarkan tindakan Dinda ini? Yang lebih memegalkan adalah beberapa temannya justru mendukung Dinda, ada yang memberi saran supaya pura-pura tidur sambil pasang earphone, menyalahkan ibu-ibu hamil yang memaksakan kerja, bahkan ada yang menyuruh agar ibu-ibu hamil itu resign dari pekerjaannya. Ckckckck…

Mengetahui kalau status  beserta komentar-komentarnya menjadi perbincangan di media sosial, Dinda menanggapinya dengan kata-kata yang menantang tanpa sedikitpun merasa malu karena ulahnya yang menyedot perhatian, bahkan semakin memperlihatkan begitu individualis…

"Path gw nyebar gara-gara statement ibu hamil ya. ayo monggo yang judge gw ngerasain dulu tiap hari naik kereta terus tiap hari berangkat abis subuh cuma biar dapat tempat duduk. emang lo semua pada ngerti kaki gw pincang gara-gara geser tulangnya. gak kan. makanya gue bela-belain berangkat jam 5 pagi buat dapet tempat duduk. eh tiba-tiba ada ibu hamil baru masuk kereta jam 7 pagi. gue udah lari-larian jam 5 pagi jangan pada maunya cuma dingertiin doang para ibu. emang gue belum hamil tapi kaki gue sakit aja gw ngerti ga mau nyusahin orang kok. plis sama-sama dong kita saling ngerti jangan mau enaknya doang ya ibu-ibu. ayo yang ngejudge ikut saya ya berangkat dari rumah saya jam 5 naik kereta tiap hari dari rumah saya 1 kali naik ojek trus 2 kali naik angkot lho ke stasiun. ikutin aja rutinitas saya tiap hari kalau enggak ada komen apa-apa berarti saya yang berlebihan. hehe,"

Oiya, banyak juga kok ibu hamil yang gue lihat berangkat pagi juga. nah kenapa enggak mencontoh mereka. mereka aja bisa kok. kalo enggak mau nyusahin enggak usah minta tempat duduk diem aja. hahahaha.. dasar pemalas. itu buktinya ada kok yang enggak pemalas. respect saya kepada ibu hamil yang mandiri dan enggak manja!!!! be tough girl!

***

Duh, duh, Neng… *gelenggeleng*. Oke, KRL memang fasilitas publik, siapa pun bisa memanfaatkannya, karena hal itu menjadi hak kita. Ya kalau mau hitung-hitungan siapa yang menyusahkan, itu lebih tidak ‘manusia’. Tapi, bisakah kita merelakan sedikit hak kita hanya untuk memberikan tempat duduk yang sudah jelas lebih urgen daripada tetap mempertahankan kegoisan kita?

Mungkin kau memang sudah lelah, Dinda… kau setiap hari hilir mudik bersahabat dengan padatnya perkotaan yang membuatmu begitu angkuh, sampai kau bilang kakimu pincang-pincang, kau kebut waktu dari jam lima shubuh hanya untuk mendapat tempat duduk tanpa ingin berbagi dengan penumpang lain yang kau sebut manja dan pemalas itu.. dan saya tak sepertimu yang merasakan hal serupa; atmosfer perkotaan yang kerap kali saya benci. 

Kalau memang benar kata salah satu psikolog di media online, "Kemungkinan besar pergaulan atau bahkan keluarganya bermasalah," itu bukan salahmu seutuhnya. Ataukah kau merasa difasilitasi dengan adanya gadget yang setia menjadi tempat keluh kesahmu, itu pun bukan salahmu, mengapa dunia ini cepat sekali berkembang sampai dengan ajaibnya kau dibuatnya begitu popular dalam waktu yang sangat singkat?

Namun saya berusaha tak memandangmu sebagai ABG yang sepenuhnya bersalah. Kau telah memberikan petikan penyadaran untuk ‘membumikan’ rasa empati itu. Rasa yang nampaknya semakin pudar, tergerus oleh keangkuhan duniawi yang merajai nafsu diri kita. Semoga yang merasa geram lewat bully-bully yang pedas padamu tak hanya memaniskan ‘empati’ itu hanya di bibir saja. Tapi kami mampu memahami tentang rasa empati dan mengerti pengaplikasiannya. Terima kasih kau sudah menampakan diri di akhir-akhir ini, mungkin begitulah wajah dari kita semua yang miskin rasa empati. 

Akhirnya sore tadi kau memohon maaf, do’amu menjadi do’a kita bersama, semoga! Dan menjadikan kita semakin bijak apa yang perlu kita tulis di media sosial, dan yang terpenting adalah sensitifitas empati kita yang perlu diasah lagi. That’s all, Dinda… semoga kita bisa berjumpa :)

"Terima kasih ya komen-komennya mba dan mas. saya sangat berterima kasih dibukakan mata saya atas pelajaran hidup saya ini. semoga saya bisa menjadi manusia lebih baik. aminnn. saya ingin meminta maaf setulus hati saya kepada rekan-rekan sekalian. karena perkataan saya yang tidak berkenan. saya harap pintu maaf dibukakan untuk saya. sekali lagi terima kasih ya rekan-rekan. dan saya meminta maaf sepenuh hati," tulisnya sebagai permohonan maaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar