Rabu, 31 Oktober 2012

JIKA CINTA ADALAH

Jika cinta adalah Ibu...
Maka adanya tak akan sunyi
Sunyi redam setulus do'a yang terlantun dalm nadi sang nanda

Jika cinta adalah Ibu...
Maka indahnya tak akan usang
Pudar kelabu tak akan dijumpai
Bak mega yang dirindukan binarnya sepasang mata

Jika cinta adalah Ibu...
Maka deru ombak tak henti berlantun
Berbisik pada ruang membara kekuatan yang tertanam dalam jiwa

Jika cinta adalah Ibu...
Maka bau pagi terus berjodoh mentari
Bunga bermekaran kupu-kupu beriring menyahut
Awan hitam pun enggan menampakkan

Jika cinta adalah Ibu...
Maka itulah ada kesahajaan embun pagi
mengisi relung-relung yang  kering
Tuk siap basahi dunia pagi

Jika cinta adalah Ibu...
Tak akan pernah kau sesali arti perjuangannya
Tak akan pernah kau rugi simbol tulus cintanya
Tak akan pernah kau kecil akan tiupan semangatnya
Tak akan pernah kau temui kerikil akan ridhanya

Tutur kata tak sedikit berbelok
Hati pun tak kuasa berdusta
Jika ku likus sosok indahnya dalam cermin

Sungguhlah cinta yang melabuhkan relung kalbu nanda dalam dekapan cintamu...

Rabu, 25 April 2012

Curhat Malam

16 April akan segera termakan oleh detik demi detik masa. Desing hiruk pikuk kehidupan kian diselimuti oleh dinginnya sang rembulan yang setia menemani keterjagaan dengkkuran. Hanya merdunya paduan jangkrik dan cicak yang sesekali kudengar di asrama putri dengan 3 ruang kamar tidur ini. Sepertinya yang lai sudah dalam buaian mimpi masing-masing. Sementara aku dan temanku, Milda, masih saja berbaring uring-uringan karena sulitnya memajamkan mata. Kami saling lirik dengan raut wajah yang khawatir dengan UN esok yang menanti dengan medan yang mendebarkan bagi kami. Aku bertempur dengan Bahasa Inggris-Fisika, dan Milda akan bertarung dengan Bahasa Inggris-Ekonomi. Kuputuskan: menulis ini, Milda: asyik coment Facebook di hape kesayangannya, trek, trek, begitulah kiranya tekanan kedua ibu jarinya pada keypad.

Sudah lama kebiasaan burukku ini tertanam; ku tancapkan niat untuk berusaha mengerjakan soal-soal UN Fisika, lagi dan lagi ikhwal kecil yang mendera karena tak tahu atau bahkan tak kumengerti rumus dan serentetan angka yang memabukkan mataku. Lalu...berakhirlah. Menyerah bekerja sama dengan pensil, pengahapus, kalkulator. Ku alihkan waktuku dengan menulis atau malah tertidur dalam posisi tidur asal.

Indikasi kebiasaan ini sudah mulai terjadi saat SMP. Sering kali leher kiri atau kananku kesemutan gara-gara tertidur di meja belajar atau kasur kamarku. Besok paginya sudah kuyakini: Ibu pasti ngomel. "De, kebiasaan! kalo belajar atur jadwalnya! ini mah udahannya mata kemana...buku-buku jadi bantal, pensil masih di tangan, itu lagi pintu kamar masih ngemplong! Anak perawan begitu masa tidurnya...". Aku dism sejenak demi mencari-cari kata pereda yang jitu sambil bergaya sok nyentrik, "Bu, itu kan tanda kalo anaknya rajin banget belajar, saking rajinnya sampe kecapean belajar...jadi ketiduran deh! Itu juga tidurnya kan gak sengaja, besok-besok mah gak gitu lagi deh...". Begitulah kelakuan putri ibu yang satu ini, dengan jawaban yang selalu ngeles. Eits, tapi ada 2 kata yang bikin keriting telinga dan hatiku dari omelan ibu tadi: ANAK PERAWAN. Awwwwrrhhh....sudah kubilang berapa kali ibu jangan panggil aku anak perawan. Entah. Aku tak suka saja.

Kesadaranku cepat kembali; pasti ibulah yang membetulkan posisi tidurku saat aku ketiduran dan membeberkan selimut plus guling yang setia menemaniku dari usia ku masih 4 tahunan... hehe ^^v

Fatimah Az-Zahra, Perempuan Teladan Dunia


 Jumadits Tsani adalah hari kelahiran Sayyidah Fatimah Az-Zahra as. tepat di hari ini, pada tahun ke-5 kenabian, rumah pasangan Nabi Muhammad saw dan Siti Khadijah as diliputi oleh suasana yang penuh dengan kebahagiaan. Karena di hari itu, mereka dianugrahi karunia ilahi yang begitu berharga, kelahiran seorang perempuan agung, yang tiada lain adalah Sayyidah Fatimah Az-Zahra as.

Kehadiran Fatimah laksana bunga yang mekar dengan begitu indahnya. Semerbak harumnya membuat jiwa-jiwa yang lunglai menjadi tercerahkan kembali. Kelahirannya mengakhiri seluruh pandangan dan keyakinan yang batil tentang perempuan. Saat Fatimah terlahir, Rasulullah pun menengadahkan kedua tangannya ke langit dan melantunkan doa syukur yang begitu indah. Dengan penuh suka cita, ia peluk si kecil Fatimah. Ia cium keningnya dan menatap wajahnya yang memancarkan cahaya kedamaian.

Sorotan mata Fatimah, membuat kalbu Rasulullah menjadi amat bahagia. Dengan lahirnya perempuan suci itu, Allah swt sepertinya membukakan khazanah harta karun alam semesta kepada sang Nabi saw. Sungguh benar apa yang dikatakan Al-Quran, bahwa Fatimah adalah Al-Kautsar. Allah swt berfirman: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar, nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus".

Surat pendek ini merupakan pesan ilahi yang membuat hati Rasulullah menjadi begitu gembira dan ia benar-benar meyakini janji ilahi. Fatimah terlahir ke dunia untuk menjadi pemimpin kaum perempuan dan dari keturunannya akan lahir para manusia-manusia agung penegak agama ilahi dan keadilan.

Salam atasmu wahai Fatimah Az-Zahra as, perempuan yang paling utama, Salam atasmu wahai manusia yang paling dicintai Nabi, Salam atasmu wahai Fatimah, manusia sempurna.

Rasulullah saw bersabda, "Putriku yang mulia, Fatimah adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh zaman dan generasi. Ia adalah bidadari berwajah manusia. Setiap kali ia beribadah di mihrab dihadapan Tuhannya, cahaya wujudnya menyinari malaikat. Layaknya bintang-gemintang yang bersinar menerangi bumi".

Keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki Sayyidah Fatimah as bukan hanya disebabkan ia adalah putri Rasulullah. Apa yang membuat pribadinya menjadi begitu luhur dan dihormati, lantaran akhlak dan kepribadiannya yang sangat mulia. Di samping itu, kesempurnaan dan keutamaan yang dimiliki Sayyidah Zahra as mengungkapkan sebuah hakikat bahwa masalah gender bukanlah faktor yang bisa menghambat seseorang untuk mencapai puncak kesempurnaan. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki potensi yang sama untuk meraih kesempurnaan.

Allah swt memberikan akal, kekuatan untuk memilih jalan hidup yang benar dan kemampuan untuk memahami hakikat alam semesta, kepada lelaki dan perempuan tanpa perbedaan. Kepribadian Sayyidah Fatimah yang begitu mulia, baik secara personal, maupun di lingkungan keluarga dan sosialnya menjadikan dirinya sebagai manifestasi nyata nilai-nilai Islam. Ia adalah contoh manusia teladan, seorang istri dan ibu yang penuh pengorbanan. Ia adalah contoh manusia sempurna yang seluruh wujudnya penuh dengan cinta, iman, dan makrifah.

Fatimah dilahirkan di tengah masyarakat yang tidak mengenal nilai-nilai luhur ilahi, penuh dengan kebodohan dan khurafat. Tradisi batil semacam membangga-banggakan diri, mengubur hidup-hidup anak perempuan, pertumpahan darah dan peperangan menjadi budaya yang telah berakar pinak dalam masyarakat Arab jahiliyah saat itu. Karena itu, Rasulullah saw pun akhirnya bangkit menyuarakan pesan-pesan suci Islam, menentang tradisi jahiliyah dan diskriminasi gender. Di tengah masyarakat terbelakang semacam itulah, kehadiran Fatimah, putri Rasulullah menjadi tolak ukur perempuan muslim.

Rasulullah saw, begitu menghormati Sayyidah Fatimah. Sebegitu mulianya akhlak Sayidah Fatimah itu, sampai-sampai Rasulullah saw senantiasa memuji dan menjadikannya sebagai putri yang paling ia sayangi dan cintai. Rasulullah saw bersabda: "Fatimah as adalah belahan jiwaku. Dia adalah malaikat berwajah manusia. Setiap kali aku merindukan aroma surga, aku pun mencium putriku, Fatimah". Suatu ketika, Rasulullah saw kepada putrinya itu berkata, "Wahai Zahra, Allah swt telah memilihmu, menghiasimu dengan pengetahuan yang sempurna dan mengistimewakanmu dari kaum perempuan dunia lainnya".

Dengan cara itu, Rasulullah sejatinya tengah memerangi pandangan jahiliyah yang melecehkan kaum perempuan. Beliau sangat menentang tindakan yang menghina kaum perempuan. Beliau tak segan-segan mencium tangan putrinya, padahal di masa itu, memiliki anak perempuan merupakan hal yang hina bagi seorang bapak.

Jiwa dan pribadi Fatimah mengenal konsepsi kehidupan yang paling luhur di rumah wahyu, di sisi pribadi agung Rasulullah saw. Setiap kali Rasulullah memperoleh wahyu, dengan penuh seksama Sayyidah Fatimah mendengarkan ajaran hikmah yang disampaikan oleh sang Ayah kepadanya. Sebegitu mendalamnya cinta kepada Allah dalam diri Fatimah, sampai-sampai tak ada apapun yang diinginkannya kecuali keridhoan Allah swt. Ketika Rasulullah saw berkata kepadanya, "Wahai Fatimah, apapun yang kamu pinta saat ini, katakanlah. Sebab Malaikat pembawa wahyu tengah berada di sisiku". Namun Fatimah menjawab, "Kelezatan yang aku peroleh dari berkhidmat kepada Allah, membuat diriku tak menginginkan apapun kecuali agar aku selalu bisa memandang keindahan Allah swt".

Masa kanak-kanak Fatimah berlangsung di masa-masa dakwah Islam yang paling sulit. Puncak kesulitan itu terjadi di masa tiga tahun pemboikotan keluarga Bani Hasyim di Syi'b Abu Thalib yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy Mekkah. Tragisnya lagi di masa yang demikian sulit itu, Fatimah mesti kehilangan ibunda tercintanya, Sayyidah Khadijah as. Kepergian sang ibunda, membuat tanggung jawab Sayyidah Fatimah untuk merawat ayahandanya, Rasulullah saw kian bertambah. Di masa-masa yang penuh dengan cobaan dan tantangan itu, Sayyidah Fatimah menyaksikan secara langsung pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan ayahandanya demi tegaknya agama ilahi.

Begitu juga dengan masa-masa awal pernikahannya dengan Imam Ali as saat berada di Madinah. Di masa itu, Sayyidah Fatimah juga melewati masa-masa sulit peperangan dengan kaum musyrikin. Ia pun selalu menjadi tumpuan hati Imam Ali di masa-masa yang sangat kritis saat itu. Saat suaminya pergi ke medan laga, ia menangani seluruh urusan rumah tangganya, merawat dan mendidik putra-putrinya sebaik mungkin. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, ia senantiasa berusaha menjadi pendamping yang selalu tulus mendukung perjuangan Rasulullah, dan suaminya, Imam Ali as dalam menegakkan ajaran Islam.

Pasca wafatnya Rasulullah saw, umat Islam berada dalam situasi perselisihan yang amat krusial dan terancam pecah serta terjerumus dalam kesesatan. Namun dengan pemikiran yang jernih, Sayyidah Fatimah membaca kondisi umat Islam saat itu dengan penuh bijaksana, namun ia pun tak segan-segan untuk mengungkapkan titik lemah dan kelebihan umat Islam di masa itu. Dia sangat mengkhwatirkan masa depan umat dan memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap faktor-faktor yang bisa menyesatkan umat. Dalam khotbah bersejarahnya, pasca kepergian Rasulullah saw, Sayyidah Fatimah as menegaskan bahwa jalan yang bisa menyelamatkan manusia adalah berpegang diri pada agama ilahi dan menaati perintah-perintahnya. 

UNTUKMU, GURUKU

Tinta pejuanganmu

Yang kau nyatakan dalam abdi

Cucuran, guyuran peluh

Tak peduli, walau kayuhan kakimu kian renta

Ya, renta dalam lelahnya pengorbanan

Mencetak mutiara-mutiara bangsa


Sepayah apapun dirimu

Terus dan terus akan menyirami kesejukan

Kesejukan ilmu yang berkubang dari dasar sanubari

Titik demi titik kau isi cakrawalaku

Mengejar mimpi!

Genggam dunia!


Kata maaf yang terlalu murahan kulontarkan

Terima kasih adalah kata yang tak tahu malu untuk kuucapkan


Aku mohon restumu

Aku mohon tularan semangat bajamu

Dan,

Berjuta harap kasih sayangNya untukmu selamanya

Bapak, Ibu...

Dan Kini HadirMu Selamanya

Dalam hembus 
Kebungkaman akan bisikan rahasiaMu
Tak henti kujajaki
Entah hingga mana
Kemana, dimana...

Duri ini telah menemani langkahku sekian mil
Semak belukar tak bosan mengiringi perjalananku nan seok
Batu sandungan nampaknya sudah berkawan
Merdunya deburan ombak sudah lama kuteriakan
Begitukah?

Masihkah Engkau...
Masih terus  ingin ku keluarkan berbarel peluh?
Retakkan tulang baja?

Saatnya tiba...
Lenyap sudah
Sirna...

Nampak terang hadirMu kini
Bak fajar selepas gerhana

Micingkan kedua sudut bibir
Menatap dengan binarnya
Cercah harap lamanya dinanti
Menyelimuti hari di hati
Lemaskan tubuh agar dahi menyentuh tanah

Engkau tak kan pernah biar
Kendali mmisteri ada dalam genggamanMu
Meski tak ubahnya Kau permainkan

Dan kini hadirMu selamanya....

Bukan Itu


Maksudku...

bukan begitu,


Bukanlah engkau yang berpesan rayuan puisi cinta

Kau lenakkan hati hawa

Demi gadaikan perasaanmu yang hanya detik ini


Bukanlah engkau yang memiliki rupawan

Kau tebarkan pesonamu

Sedang kau tak dapat mengalihkan pandangan


Bukanlah engkau yang bertahta

Kau urusi itu bersama keangkuhan 

Sedang Tuhanmu hanya menguji titik syukurmu


Bukan,

Bukan begitu maksudku...


Hanya...


Biarkan kau tetap tersimpan utuh dalam jejak-jejak pencarianku

Rupamu kau jaga sendiri, demi kuasai hati nan suci

Saat ini...

Berjalanlah dalam skenario Tuhanku dan Tuhanmu

Ku rasa... kelak akan indah

Dalam binaran senyum kita

^^v

untukmu...yang selalu dalam nafas-nafas kebaikan 

yang tersimpan rapi dalam RidhaNya

ME, YOU, WE ARE...


Remember when the day July 21, 2009? I, you, you and we know each other first day of its entry into the door of the White Gray.
Fun, cheerful, laughter, tears, sorrow, love and hate. That day we started together. wading through all the problems of trivial events to critical. originated in a simple classroom, in the southern corner of the school; the transition from White Blue is still felt, ignorance, innocence and commonness in a mixed adult class. shock occurs not infrequently.

bilingual first semester, our class is characterized by separation of shifting our body 8. Yes, we were the tenants of the 16 pieces of empty seats. but it did not matter, yet we too could not be separated from the warm and blue together. first time when we hold the mandate and role in the Eleven Twelve. precisely as of January 31, 2011. that's when all the flavors we enjoy with breathing, perspiration and excited to stream already imprinted in the mind wading in Eleven Twelve. nan countless sweet and bitter memory was learning to organize a trip to accompany them.

came on the day January 14, 2012. piece of our journey in the bond release. emotion I felt, my friend ... :) true God who set up the scenario of our journey. so short a space inhabited measuring approximately 2x6 meters with two windows. therein recorded in the footsteps of our mission. "Make it with air-IPM as a field service Muhammadiyah Students," as the sound of jargon that we always cry in the souls who never gave up!

enough to where we are acting in a bond that in the twinkling of an eye. although apart from that the tasks ahead have been waiting for. UAS & UN. all efforts and prayers we say. appealed to the Supreme Essence of everything for our cause in the approval. always and always rolling time can not be ditampikkan from the flat state. valleys and hills we explore together. until the end of 19 April 2012; the fight ended in Sociology, Chemistry, Geography and Biology. Alhamdulillah ...

that we arrange for a new memory to release any sense of fatigue during UAS material ransacked, UP, & UN. Cibodas garden that we are headed. joy that radiates from the faces of the warrior civilization. no longer among us who do not bersapa, the moment finally came back to dialogue. impression seems bitter for almost 3 years has been destroyed and will never be visited again. road together, played together, ate together, joked together, there pose pose here. I am grateful to spend time alone together. maybe tomorrow we are no longer split between rural and urban, but the province though.

never mind ... just scribbles represent my love to you my impression in this ukhuwah. too bored if I write a long-term, especially with a series of words that are far from the word poet. this is the first stage of trying to develop my interest.

I'll always be waiting to hear of your success. inshaAllah tomorrow fragrant name was known as a doctor, midwife, teacher, bu teachers, musicians, politicians, professors, businessmen, technicians, officials, seniwan, artist, cleric, cleric, poet, psychologist, or any judge who wanted to set up a blue tent . aahh it be any hero in the family and the wider community ... we are THE STRONG PATRIOT! still wider places out there that have not we walk on .. ^ ^ V

mind to be sad because it may limit the distance that our togetherness. I just want to see you smiling gratefully ... :) :) :)

AKU, KAMU, KALIAN, ADALAH KITA

Ingatkah ketika hari 21 Juli 2009? aku, kamu, kalian dan kita hari pertama saling mengenal dengan masuknya ke pintu masa Putih Abu-Abu.
Canda, ceria, tawa, tangis, duka, cinta dan benci. hari itulah kita mulai bersama. mengarungi perhelatan segala problematika sepele hingga kritis.berawal di sebuah ruang kelas sederhana, di pojok selatan sekolah; masa transisi dari Putih Biru masih terasa, kejahilan, kepolosan dan keawaman dewasa bercampur dalam kelas tersebut. tak jarang kegoncangan terjadi.

dwi semester pertama, kelas kita bergeser yang ditandai dengan terpisahnya 8 tubuh kita. Ya, kamilah penghuni kelas yang dengan 16 buah bangku kosong. namun itu tak jadi soal, toh kitapun tak lepas dari kebersamaan yang hangat dan biru. terlebih masa dimana kita memegang amanah dan peran di Eleven Twelve. tepatnya terhitung tanggal 31 Januari 2011. saat itulah segala rasa pernahlah kita nikmati bersama, gembira hingga cucuran peluh dan pikiran sudah tercetak dalam masa mengarungi di Eleven Twelve. tak terhitung memori nan manis dan pahitpun mengiringi perjalanan belajar berorganisasi tersebut.

sampailah di hari 14 Januari 2012. sepenggal perjalanan dalam ikatan kita lepaskan. haru yang kurasakan, kawan...:) sungguh Allah yang mengatur skenario perjalanan kita. begitu singkatnya menghuni ruangan yang kurang lebih berukuran 2x6 meter dengan 2 jendela itu. disitulah jejak langkah dakwah kita terekam. "Jadikan dengan ber-IPM senagai ladang ibadah Pelajar Muhammadiyah", begitulah bunyi jargon yang selalu kita teriakan dalam jiwa-jiwa yang pantang menyerah!

cukup samapai situlah kita berperan dalam sebuah ikatan yang dalam kejapan mata. kendati terlepas dari itu tugas-tugas di depan telah menanti. UAS & UN. segenap ikhtiar dan do'a kita panjatkan. memohon kepada Dzat yang Maha segalanya demi perjuangan kita dalam RidhaNya. selalu dan selalu waktu yang bergulir itu tak bisa ditampikkan dari keadaan yang datar saja. lembah dan bukit kita jajaki bersama. hingga di penghujung 19 April 2012; pertarungan berakhir dengan Sosiologi, Kimia, Geografi dan Biologi. Alhamdulillah...

untuk itu kita susun memori baru untuk melepas segala rasa penat selama mengobrak-abrik materi UAS, UP, & UN. Kebun Raya Cibodas yang kita tuju. keceriaan yang terpancar dari wajah-wajah sang pejuang peradaban.  ada diantara kita yang lama tak bersapa, akhirnya pada momen itu kembali berdialog. nampaknya kesan pahit selama hampir 3 tahun sudah dimusnahkan dan tak akan pernah ditengok lagi. jalan bersama, main bersama, makan bersama, canda bersama, pose sana pose sini. aku sendiri bersyukur bisa menghabiskan waktu bersama. mungkin esok tak lagi kita berpisah antar desa-kota, tetapi Provinsi sekalipun.

sudahlah...cukup coretan kesanku padamu mewakili perasaan cintaku dalam ukhuwah ini. terlalu jenuh jika kutulis panjang-panjang, apalagi dengan rangkaian kata yang jauh dari kata karya penyair. inilah tahap pertamaku mencoba mengembangkan minatku.

aku akan selalu menunggu kabar keberhasilanmu. insyaAllah esok namamu sudah harum dikenal sebagai dokter, bidan, pak guru, bu guru, musisi, politisi, dosen, pengusaha, teknisi, pejabat, seniwan, seniwati, ustadz, ustadzah, sastrawan, psikolog, hakim atau ada yang ingin segera mendirikan tenda birunya. aahh apapun itu jadilah pahlawan dalam keluarga dan masyarakat luas...kita adalah PARA PEJUANG TANGGUH! masih luas tempat di luar sana yang belum kita injak.. ^^v

usahlah bersedih karena mungkin jarak yang membatasi kebersamaan kita. aku hanya ingin melihatmu tersenyum penuh rasa syukur... :) :) :)