16 April akan segera termakan oleh detik demi detik masa. Desing hiruk pikuk kehidupan kian diselimuti oleh dinginnya sang rembulan yang setia menemani keterjagaan dengkkuran. Hanya merdunya paduan jangkrik dan cicak yang sesekali kudengar di asrama putri dengan 3 ruang kamar tidur ini. Sepertinya yang lai sudah dalam buaian mimpi masing-masing. Sementara aku dan temanku, Milda, masih saja berbaring uring-uringan karena sulitnya memajamkan mata. Kami saling lirik dengan raut wajah yang khawatir dengan UN esok yang menanti dengan medan yang mendebarkan bagi kami. Aku bertempur dengan Bahasa Inggris-Fisika, dan Milda akan bertarung dengan Bahasa Inggris-Ekonomi. Kuputuskan: menulis ini, Milda: asyik coment Facebook di hape kesayangannya, trek, trek, begitulah kiranya tekanan kedua ibu jarinya pada keypad.
Sudah lama kebiasaan burukku ini tertanam; ku tancapkan niat untuk berusaha mengerjakan soal-soal UN Fisika, lagi dan lagi ikhwal kecil yang mendera karena tak tahu atau bahkan tak kumengerti rumus dan serentetan angka yang memabukkan mataku. Lalu...berakhirlah. Menyerah bekerja sama dengan pensil, pengahapus, kalkulator. Ku alihkan waktuku dengan menulis atau malah tertidur dalam posisi tidur asal.
Indikasi kebiasaan ini sudah mulai terjadi saat SMP. Sering kali leher kiri atau kananku kesemutan gara-gara tertidur di meja belajar atau kasur kamarku. Besok paginya sudah kuyakini: Ibu pasti ngomel. "De, kebiasaan! kalo belajar atur jadwalnya! ini mah udahannya mata kemana...buku-buku jadi bantal, pensil masih di tangan, itu lagi pintu kamar masih ngemplong! Anak perawan begitu masa tidurnya...". Aku dism sejenak demi mencari-cari kata pereda yang jitu sambil bergaya sok nyentrik, "Bu, itu kan tanda kalo anaknya rajin banget belajar, saking rajinnya sampe kecapean belajar...jadi ketiduran deh! Itu juga tidurnya kan gak sengaja, besok-besok mah gak gitu lagi deh...". Begitulah kelakuan putri ibu yang satu ini, dengan jawaban yang selalu ngeles. Eits, tapi ada 2 kata yang bikin keriting telinga dan hatiku dari omelan ibu tadi: ANAK PERAWAN. Awwwwrrhhh....sudah kubilang berapa kali ibu jangan panggil aku anak perawan. Entah. Aku tak suka saja.
Kesadaranku cepat kembali; pasti ibulah yang membetulkan posisi tidurku saat aku ketiduran dan membeberkan selimut plus guling yang setia menemaniku dari usia ku masih 4 tahunan... hehe ^^v