Humanizing
human. Ya, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Pendidikan adalah
proses panjang untuk mengaktualisasikan seluruh potensi diri manusia, sehingga
seluruh proses kemanusiaannya menjadi aktual. Konon, melalui dunia pendidikan
lah banyak orang yang memiliki pandangan bahwa pendidikan sebagai wahana
penemuan insan-insan pembaharu.
Mereka tak
sembarang mengangkat spekulasi semata, namun kenyataan lah yang mengangkat
harapan yang membumbung tinggi tatkala sebuah sistem berada di ambang ‘wajah yang
kelam’. Padahal harapan banyak orang adalah bahwa dunia pendidikan menjadi
satu-satunya wahana dalam menggulirkan upaya ‘memanusiakan manusia’.
Pendidikan
bukanlah sebatas pergulatan sosial dalam arena sekolah saja. Pendidikan harus
tumbuh dari dalam diri, harus ada pengantar bagaimana jiwa didikan tersebut
terlahir dari motivasi murni agar insan-insan pembaharu ini mampu dan siap
dididik, hingga secara perlahan mampu mendidik dirinya sendiri tanpa terdikte. Peran
keluarga lah yang menjadi pembuka kepekaan anak agar tidak saja menerima
pengajaran atau sumber pengetahuan yang diberikan kepadanya, namun juga
memiliki motif untuk mengejar pengetahuan secara pribadi.
![]() |
| tempe.wordpress.com |
Peran keluarga
dalam kehidupan bermasyarakat memiliki andil besar dalam mempersiapkan anak
secara utuh menuju dimensi spiritual dan emosional, sebab dari lingkup rumah tersebut
menjadi sumber peradaban untuk mengawali penanaman nilai-nilai pendidikan yang
sesungguhnya. Adapun lembaga pendidikan seperti sekolah, hanyalah tempat
pengembangan orientasi anak dalam mengejar apa yang bisa didapatkan secara
lebih dari pendidikan dalam keluarga. Kedua lingkungan (keluarga dan sekolah)
akan menggiring perjalanan pendidikan yang sesuai dengan apa yang diharapkan
jika kedua pilar tersebut tidak terpisah dalam pelaksanaannya. Apatis bukanlah
zamannya lagi hari ini, ketika orangtua menyerahkan anaknya begitu saja seperti
kertas putih kepada sekolah. Maka tetaplah, keluarga merupakan pemberi fondasi
utama bagi anak.
Carut marut
wajah pendidikan bangsa ini sesungguhnya mungkin saja tak bisa dipungkiri
dikarenakan kesalahan pemahaman dalam pemaknaan ‘pendidikan’ itu sendiri. Berbagai
kasus yang memberikan noda hitam dalam wacana pendidikan menjadi PR kita
bersama untuk memberbaiki dan membentuk insan-insan pembaharu yang akan mengisi
peradaban selanjutanya. Tak pernah ada yang terlambat selama kita masih menaruh
optimisme dalam setiap hal yang harus terus diperbaiki. Kita bisa, Indonesia
bisa!
Selamat HARDIKNAS ^^
