Jumat, 25 April 2014

Ramai Membicarakan Nikah, Kenapa???

Setahun terkahir ini pembicaraan soal (me)nikah tak pernah habis dari jagad perbincangan antara saya dan teman-teman. Kerap kali saya yang lebih cuek untuk membuntuti perbincangan ini memaklumi karena usia mereka yang menginjak dua dasawarsa, bahkan ada yang lebih, “mungkin karena mereka lebih dewasa, wajar saja jika orientasinya sudah mengarah ke situ,” dalam benak saya. Saya sendiri yang mereka anggap sebagai ‘bocah’, awalnya merasa suntuk kalau sudah menyerempet-nyerempet ke persoalan keinginan untuk menikah; katakanlah dengan pria yang begini dan begitu, mahar yang akan diajukan, konsep acara walimahnya, sampai tempat tujuan untuk dijadikan tempat bulan madu. Duh, serasa segera mengepakkan sayap menuju awan-awan imajinasi :D *uhuuuyy
 
Hampir setiap hari saya tak pernah tidak berkomunikasi dengan teman-teman, alhasil mengenai apa pembicaraan mereka melekat dalam diri saya yang berulang kali mendengar keseruan topik perbincangan. Saya tak dapat menghindar lagi untuk tidak mempedulikan trend topic pada musim ini *ceilee… Saya sendiri terkadang menjadi investigator diri sendiri kenapa bisa ikut antusias membicarakan hal-hal yang sebelumnya kurang saya lirik. Dalam perenungan itu, saya teringat Ibu yang pernah mengatakan bahwa manusia itu selalu jalan bergandengan dengan waktu, dalam kurun waktu tersebut tidak mungkin ia tidak mengalami perubahan, mungkin perubahan kedewasaan  seiring menyempit batas usianya. 

Jadi kalau sudah tertarik membicarakan soal menikah itu tanda kedewasaan? “Usia kamu sekarang ya memang saat-saat ‘dilingkari’ oleh hal semacam ini”, jelas Ibu ketika saya mengutarakan trend topic yang ramai diperbincangkan. (padahal menjadi dewasa adalah fase yang ‘mengerikan’ sepanjang arah berpikir saya selama ini... hehe). Kemudian panjang kali lebar sama dengan luas, arahan Ibu yang membuat saya tertidur pulas saat itu :D

Pembentukan framing tema menikah lama-lama menjadi hal yang menarik dan tak pernah habis sepertinya. Benar begitu? Atau saya saja yang lebay? Entahlah, saya sedikit banyaknya belajar dari cerita teman dan mbak-mbak yang sudah dilamar dan menikah. Penuturan demi penuturan mereka menyiratkan satu motivasi tersendiri bagi saya yang sering sekali labil :D Kecocokan mereka dengan pasangannya yang telah menikah menjadi kesimpulan dalam pikiran saya: ‘siapa pasangan kita adalah diri kita’. Dan rentetan pelajaran lainnya yang mulai harus saya pahami sekarang ini. Bukan sebatas memahami urutan dan teknis acara menuju ijab qabul saja, namun lebih jauh setelah keputusan kedua saksi menyatakan ‘sah’, yakni fiqih munakahat, psikologi parenting, dan juga manajemen keuangan. BELAJAR dan PERSIAPKAN! :D Iya sih, tapi begitu ditanya “kapan mau nikah?” seketika menjadi kikuk.. krik, krik, krik… :D :D “Insya Allah, nanti…” *keep smile

Akhirnya seiring proses keheranan saya itu, membuka pikiran saya, lagi-lagi agar tidak menutup mata dan telinga untuk memahami sesuatu hal. Dan… memutuskan menuju (me)nikah adalah bukan hal teknis yang mudah layaknya menghitung kancing atau mengocok arisan..hehe. Walaupun itulah bagian dari fitrah sebagai manusia, bagian yang menjadi kodrati dalam diri setiap insan. 

Perbicangan yang marak tersebut tentu bukan pembicaraan yang kosong tanpa pelajaran yang bisa dipetik. Namun menjadi awal keberangkatan kegalauan saya sampai harus menuliskannya disini :D :D

Jumat, 18 April 2014

DINDA, DIMANAKAH EMPATIMU? (Untuk Kita Semua)

Belakangan ini kita mungkin merasa geram, kesal, marah, ‘gregetan’ atau pun sejenisnya. “Dinda, ABG yang tak kenal empati”, begitu tagline di beberapa berita online. Tentu ketenaran Dinda bukan berarti prestasi akademik atau pun softskillnya yang patut ia banggakan. Melainkan ocehannya di Path yang menyedot perhatian sampai statusnya tersebut dicapture dan kemudian diunggah ke seluruh penjuru jejaring sosial. Berbagai justifikasi dari pengguna jejaring sosial menghujaninya. Betapa tidak, kekesalan Dinda yang ia tumpahkan itu begitu congkak dan memperlihatkan arogansinya sebagai remaja yang individualis. Berikut ucapannya yang ia posting di Path:
 
"Benciii sama ibu-ibu hamil yang tiba-tiba minta duduk. Ya gue tahu lw hamil tapi plis dong berangkat pagi. Ke stasiun yang jauh sekalian biar dapat duduk, gue aja enggak hamil bela-belain berangkat pagi demi dapat tempat duduk. Dasar emang enggak mau susah.. ckckck.. nyusahin orang. kalau enggak mau susah enggak usah kerja bu di rumah saja. mentang-mentang hamil maunya dingertiin terus. Tapi sendirinya enggak mau usaha.. cape dehh,"

bagaimana rasa geram tak tersulut? Tanpa berpikir panjang ABG ini menuliskan rasa sebalnya di ruang yang siapa pun orang bisa mudah mengetahuinya, terlepas si ibu hamil tersebut tahu atau tidak, apa masih bisa dibenarkan tindakan Dinda ini? Yang lebih memegalkan adalah beberapa temannya justru mendukung Dinda, ada yang memberi saran supaya pura-pura tidur sambil pasang earphone, menyalahkan ibu-ibu hamil yang memaksakan kerja, bahkan ada yang menyuruh agar ibu-ibu hamil itu resign dari pekerjaannya. Ckckckck…

Mengetahui kalau status  beserta komentar-komentarnya menjadi perbincangan di media sosial, Dinda menanggapinya dengan kata-kata yang menantang tanpa sedikitpun merasa malu karena ulahnya yang menyedot perhatian, bahkan semakin memperlihatkan begitu individualis…

"Path gw nyebar gara-gara statement ibu hamil ya. ayo monggo yang judge gw ngerasain dulu tiap hari naik kereta terus tiap hari berangkat abis subuh cuma biar dapat tempat duduk. emang lo semua pada ngerti kaki gw pincang gara-gara geser tulangnya. gak kan. makanya gue bela-belain berangkat jam 5 pagi buat dapet tempat duduk. eh tiba-tiba ada ibu hamil baru masuk kereta jam 7 pagi. gue udah lari-larian jam 5 pagi jangan pada maunya cuma dingertiin doang para ibu. emang gue belum hamil tapi kaki gue sakit aja gw ngerti ga mau nyusahin orang kok. plis sama-sama dong kita saling ngerti jangan mau enaknya doang ya ibu-ibu. ayo yang ngejudge ikut saya ya berangkat dari rumah saya jam 5 naik kereta tiap hari dari rumah saya 1 kali naik ojek trus 2 kali naik angkot lho ke stasiun. ikutin aja rutinitas saya tiap hari kalau enggak ada komen apa-apa berarti saya yang berlebihan. hehe,"

Oiya, banyak juga kok ibu hamil yang gue lihat berangkat pagi juga. nah kenapa enggak mencontoh mereka. mereka aja bisa kok. kalo enggak mau nyusahin enggak usah minta tempat duduk diem aja. hahahaha.. dasar pemalas. itu buktinya ada kok yang enggak pemalas. respect saya kepada ibu hamil yang mandiri dan enggak manja!!!! be tough girl!

***

Duh, duh, Neng… *gelenggeleng*. Oke, KRL memang fasilitas publik, siapa pun bisa memanfaatkannya, karena hal itu menjadi hak kita. Ya kalau mau hitung-hitungan siapa yang menyusahkan, itu lebih tidak ‘manusia’. Tapi, bisakah kita merelakan sedikit hak kita hanya untuk memberikan tempat duduk yang sudah jelas lebih urgen daripada tetap mempertahankan kegoisan kita?

Mungkin kau memang sudah lelah, Dinda… kau setiap hari hilir mudik bersahabat dengan padatnya perkotaan yang membuatmu begitu angkuh, sampai kau bilang kakimu pincang-pincang, kau kebut waktu dari jam lima shubuh hanya untuk mendapat tempat duduk tanpa ingin berbagi dengan penumpang lain yang kau sebut manja dan pemalas itu.. dan saya tak sepertimu yang merasakan hal serupa; atmosfer perkotaan yang kerap kali saya benci. 

Kalau memang benar kata salah satu psikolog di media online, "Kemungkinan besar pergaulan atau bahkan keluarganya bermasalah," itu bukan salahmu seutuhnya. Ataukah kau merasa difasilitasi dengan adanya gadget yang setia menjadi tempat keluh kesahmu, itu pun bukan salahmu, mengapa dunia ini cepat sekali berkembang sampai dengan ajaibnya kau dibuatnya begitu popular dalam waktu yang sangat singkat?

Namun saya berusaha tak memandangmu sebagai ABG yang sepenuhnya bersalah. Kau telah memberikan petikan penyadaran untuk ‘membumikan’ rasa empati itu. Rasa yang nampaknya semakin pudar, tergerus oleh keangkuhan duniawi yang merajai nafsu diri kita. Semoga yang merasa geram lewat bully-bully yang pedas padamu tak hanya memaniskan ‘empati’ itu hanya di bibir saja. Tapi kami mampu memahami tentang rasa empati dan mengerti pengaplikasiannya. Terima kasih kau sudah menampakan diri di akhir-akhir ini, mungkin begitulah wajah dari kita semua yang miskin rasa empati. 

Akhirnya sore tadi kau memohon maaf, do’amu menjadi do’a kita bersama, semoga! Dan menjadikan kita semakin bijak apa yang perlu kita tulis di media sosial, dan yang terpenting adalah sensitifitas empati kita yang perlu diasah lagi. That’s all, Dinda… semoga kita bisa berjumpa :)

"Terima kasih ya komen-komennya mba dan mas. saya sangat berterima kasih dibukakan mata saya atas pelajaran hidup saya ini. semoga saya bisa menjadi manusia lebih baik. aminnn. saya ingin meminta maaf setulus hati saya kepada rekan-rekan sekalian. karena perkataan saya yang tidak berkenan. saya harap pintu maaf dibukakan untuk saya. sekali lagi terima kasih ya rekan-rekan. dan saya meminta maaf sepenuh hati," tulisnya sebagai permohonan maaf.

MY FANTASY WORLD: BUNDARAN DESTINASI



Mungkin memang aku ini seorang yang tinggi berangan, seperti yang mereka katakan. Mereka yang telah mengenalku dekat. Berangan telah menjadi bagian dari waktu yang telah kuhabiskan sejak kecil. Masa itu telah menjadi hal yang menyenangkan bagiku, setidaknya aku telah merasakan indahnya berselancar dengan imajinasiku yang sering kali diilhami dari kartun-kartun yang setiap hari libur kutonton dari pagi hingga menjelang siang.

Khayalan konyol pernah terlintas dalam pikiranku saat-saat usia SD awal. Aku pernah membayangkan serunya naik ayunan dengan sekencang-kencangnya sambil memejamkan mata, dalam gelapnya pejaman mata itu aku memasuki lorong sambil terbang ala superman, lalu tanpa disadari ternyata aku talah berada di puncak pelangi, di situlah tempatku untuk main ‘perosotan’. Aku dadah-dadah melambaikan tangan kepada teman-temanku yang tengah asyik bermain di atas awan. Mereka membalas lambaian tanganku dengan riangnya. Rasanya akulah paling bahagia karena bisa bermain di atas biasan cahaya yang warna-warni itu.

Juga pernah kubayangkan bagaimana teriakan penonton dan jepretan kamera ketika aku memimpin sebuah kelompok marching band. Ambisi itu muncul setelah kutonton pawai tujuhbelasan di alun-alun kecamatan kala itu. “Yang mimpin di depan itu, yang bajunya paling beda dari yang lain tuh.. itu namanya mayoret atau gitapati”, begitu kata Ayah. Wah bayangan ku terasa terlempar ke beberapa tahun yang akan datang; aku bersama teman-temanku berjalan beriringan sambil menabuh berbagai alat marching band di jalan yang sengaja di kosongkan dari pengendara, begitu riuh penonton yang membidik di sisi kanan dan kiri jalan tersebut. It’s my fantasy world!
 
Masih tentang dunia khayalku! Siapa yang tak tahu Riani Djangkaru? Aku mengenalnya sebagai sosok gadis yang supel dan pemberani. Yaa usiaku saat itu sekitar 9 tahun dan ia mungkin sekitar 20an. Meski aku hanya bisa bertemu di layar kaca tepatnya di Jejak Petualang, namun Riani layaknya telah mengajakku ke berbagai tempat yang menantang menurutku. Tempat yang paling kuingat adalah ketika Riani berpetualang ke pedalaman tanah Irian, pemukiman suku Dani. Disana ia dan juru kameranya yang hanya berpakaian layaknya orang Indonesia pada umumnya, bisa dibayangkan bagaimana kultur berbusana orang-orang Papua yang masih primitif gitu? Ia sangat pandai bergaul dengan warga suku disana, bukan akting dan fiktif, karena ia melakukannya sebagai seseorang yang adaptif. Kalau mereka (warga suku Dani) sedang mencari ulat pohon sagu, maka ia pun ikut dan bahkan makan ulat pohon sagu juga. Dan yang paling tak terkirai adalah ia turut menari-nari sambil bernyanyi bersama mereka di saat upacara adat suku.

Hampir sama dengan Riani yang membuatku kagum, Meutia Hafidz pun pernah menjadi seseorang yang hadir dalam ‘pembangunan’ imajinasiku. Aku mengenalnya sebagai seorang jurnalis dari Metro Tv. Ia kerap kali kulihat sebagai reporter di berita-berita bencana secara live di lokasi kejadian. Wajahnya terlihat tak segar karena tak mungkin berdandan dahulu di tengah situasi bencana. Banjir, gempa dan tsunami menjadi laporan-laporan yang harus ia beritakan kepada pemirsa. Di suatu ketika, ia bertugas untuk mewartakan konflik yang sedang memanas di Irak, hmmm sekitar tahun 2005. Bukannya ia dan seorang temannya (lupa namanya) yang melaporkan berita mengenai peristiwa disana, justru mereka yang diberitakan di semua stasiun tv Indonesia bahkan luar negeri pun. “Dua reporter Metro Tv disandera tentara Irak”, begitu judul di setiap berita yang tersiar.

Riani dan Meutia adalah dua sosok yang telah menghipnotis pikiranku sejak SD. Mereka adalah pengantar yang ulung, mengantarkanku pada kepingan impian untuk menjelajahi ke berbagai penjuru yang tak pernah kuinjak sebelumnya. Petualangan Riani walaupun dengan perbedaan dari kebiasaannya namun ia tetap mampu berbaur dengan warga suku Dani. Seringnya Meutia yang harus ditugaskan di lokasi bencana sampai pada penyanderaannya oleh tentara Irak menjadi doronganku agar jangan hanya berkubang di kandang sendiri, bahwa banyak sekali peristiwa di luar sana yang harus diketahui. Dan mereka dua sosok yang masuk dalam daftar orang-orang yang ingin kujumpai. Ya, RIANI DJANGKARU dan MEUTIA HAFIDZ! Semoga Allah mengizinkan kesempatannya :)

***

“Sampaikan salam, dari Dini yang merindukan perjalanan seantero Indonesia tercinta!”. Itu yang sering kali menjadi pesan kepada teman yang hendak pulang ke kampung halamannya atau mereka yang sengaja berlibur ke suatu tempat. Mereka terheran, “ditujukan kepada siapa salamnya?”. Aku hanya menjawab dengan senyum. Ya, menjadi penjelajah adalah sebuah keinginan yang selalu menggelayut dalam obesesiku. Tentu perjalanan yang ingin kulakukan bukan semata untuk berlibur, namun harus ada sesuatu yang aku “lakukan” dan “dapatkan” yang tak bisa dibeli oleh materi. 

Perbincangan yang cukup menarik adalah jika membicarakan tentang ‘ada apa disana’. Memang tak semua yang kutanyai itu dengan antusias menceritakannya, tidak seantusias saat aku menanyakannya. Kalau sudah begitu, aku akan terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan yang memuaskan rasa penasaranku mengenai suatu tempat dengan segala kandungan antroposentrisnya.

Salah satu tempat yang membuat rasa penasaranku menyulut adalah pulau Belitong. Sejak membaca tetralogi Andrea Hirata, khususnya Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi yang banyak mengisahkan Belitong, secara tiba-tiba imanjinasiku tertendang ke sana. Stimulus lebih ketika seorang kakak senior yang berasal dari Belitong menceritakan keadaan alam dan budayanya yang begitu mempesonakan. Dan rasanya ingin segera meloncat saat ia memperlihatkan foto SD Muhammadaiyah Gantong yang diambilnya langsung, sekolah reyot yang menjadi tempat belajar Ikal dan kawan-kawannya.

Huh, indah sekali hidup dalam dunia imajinasi yang mengobarkan semangat untuk terus menjelajah bumi Sang Pencipta. Sabang sampai Merauke, Talaud sampai Rote, hinga ujung-ujung sana yang membentuk satu bundaran destinasi. Akankah kau menanti kunjunganku?

Semoga rindu yang membenam ini tak hanya milikku, sang pengkhayal.. 

Namun akan terus menjadi mimpi-mimpi indah yang tak akan kubiarkan ia tenggelam oleh deru kepayahan…

Semoga, semoga, semoga. :)

Yogya, 18 April 2014
19.32

Rabu, 09 April 2014

Alat Itu Bernama Jiwa



Ada yang tahu wujud listrik itu seperti apa? Sebagai orang awam soal kelistrikan, saya mendefinisikan bahwa listrik itu sesuatu yang mampu menghantarkan dan menghasilkan cahaya melalui lampu, suara melalui alat-alat audio seperti radio, dan gerak melalui kipas angin. Hehe.. sesungguhnya itu hanya formasi sederhana yang disederhanakan dari pendefinisian hukum kekekalan energi. Ya, energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Energi hanya berpindah dari satu bentuk ke bentuk lain. Energi akan berguna ketika terjadi perubahan bentuk. Dari berbagai bentuk energi yang banyak digunakan adalah energi listrik yang bermanfaat ketika diubah menjadi bentuk energi lain. Right? 

Kita lihat perubahan energi listrik itu menjadi bentuk energi lainnya, ada energi cahaya pada lampu, energi kinetik (gerak) pada kipas angin, energi kalor (panas) pada setrika listrik, dan energi kimia pada penyepuhan logam. Tentu perubahan energi tersebut menjadi sangat berguna, bukan? Dengan melihat manfaat dari perubahan energi tersebut, berarti aliran listrik yang tidak diketahui wujud aslinya itu hanya dapat dilihat dari gejala yang ditimbulkannya.
Nah, begitu pun dengan yang namanya ‘Jiwa’. Apa itu? Hingga di abad perkembangan ilmu jiwa seperti saat ini, belum ada seoang ahli yang dapat menunjukkan wujud jiwa itu seperti apa. Filosof-filosof pun belum dapat menjelaskannya. Adapun Democritus seorang tokoh Yunani yang mencetuskan teori atom, mengatakan bahwa jiwa itu terbentuk dari atom yang strukturnya halus, bahkan lebih halus dari struktur atom tubuh. Atom jiwa tersebut mudah bergerak dan terletak di sela-sela atom tubuh. Dengan demikian dapat  dikatakan bahwa seluruh tubuh terdapat atom jiwa.

Kedua hal tersebut sama-sama tidak dapat ditunjukkan wujudnya, tetapi dapat ditunjukkan gejala-gejala yang dihasilkan, dari listrik misalnya, panas, menyala, dan sebagainya. Dan dari gejala-gejala dari jiwa misalnya, marah, sedih, gembira dan sebagainya. Soal apakah itu jiwa atau definisi jiwa tidak dipersoalkan. Yang perlu kita selidiki ialah pernyataan-pernyataannya atau gejala kejiwaan, misalnya, perasaan, pikiran, kemauan dan sebagainya. 

Dalam kehidupan sehari-hari pun sering kali kita kurang dapat mengerti  dan memahami tingkah laku seseorang. Misalnya, suatu ketika kita masuk ke sebuah warteg. Di satu meja ada seorang pria yang sedang makan sambil mendengarkan musik di earphonenya. Tidak lama kemudian, datanglah seorang pengemis yang menghampiri pria tersebut. Dengan segera ia membuka dompet lalu memberi uang kepada pengemis itu. Nah, di dalam penyelidikan kita bisa menemukan beberapa kemungkinan yang mendasar:
Pria tersebut terdorong oleh rasa belas kasihan kepada pengemis, karena sifatnya yang suka mengasihi.
2.       Pria tersebut memberikan uangnya agar dinilai dermawan oleh orang lain yang melihatnya.
3.      Pria tersebut tidak suka diganggu, sehingga cepat-cepat memberikan uang kepada pengemis.
Nyatalah di sini untuk satu jenis perbuatan saja telah ada beberapa kemungkinan alasan dari dasar perbuatan, dengan kata lain satu jenis perbuatan mempunyai dorongan untuk berbuat yang berbeda-beda.
***
Sekian yang saya pahami dari membaca buku beberapa lembar dari buku Pengantar Psikologi Umum…
Tadinya mau dipanjang-lebarkan mengenai pemberian judul di atas, yang jelas menurut saya jiwa itu sebagai alat manusia untuk melakukan suatu perbuatan. Entah itu perbuatan baik atau buruk. Heuheu.. bingung sendiri begini jadinya. Ya pokoknya tunggu deh hasil renungan saya selanjutnya (siapa juga yang rela nunggu???) :D

Berikut ungkapan Ibnu Sina mengenai jiwa:
Nafs (jiwa) dalam jasad itu bagaikan burung yang terkurung dalam sangkar,merindukan kebebasannya di alam lepas, menyatu kembali dengan alam ruhani, yaitu alam asalnya. Setiap kali ia mengingat alam asalnya, ia pun menangis karena rindu ingin kembali.” (Ibn Sina)

Yogya, 9 April 2014