Seribu
langkah kaki yang telah kau tempuh sejak masa itu telah mengantarmu ke sudut
kota. Kota yang kau pijaki tanpa mimpi dan angan panjang sebelumnya. Dimana
disanalah lambat laun kau membuat sebuah penegasan pada diri sendiri tentang
hakikat menjadi diri yang tak akan pernah sempurna dan penuh teka-teki, begitu
katamu. Termasuk tentang waktu yang tak pernah terbentik kala itu yang ternyata
di tanah inilah yang mesti kau jajaki.
Banyak yang
terjadi pada dirimu di atas tanah pijakmu kini, entah pijakmu kini masih menuju
pada segala ambisi yang kau fantasikan sejak dulu, ataukah justru menarik diri dari
ambisi itu? Atau mungkin motivasinya telah lenyap yang dulu pernah kau tulis
nyata di atas kertas putih? Kau ingat, kata-kata yang kau tulis itu sebuah
uraian setelah air mata menggenang dan tertumpah dalam buaian Bunda?
![]() |
| gstatic.com |
Sedikit dan
lambat laun kau menyadari akan segala keinginan yang tak akan pernah sejati dan
bernilai luhur, kecuali jika ianya disejajarkan dengan apa yang diharapkan
lingkunganmu. Dulu kau begitu egois, cita-citamu berlandas nafsu yang seakan
kaulah satu-satunya yang bisa melakukannya, kau mengharap sanjungan dan dambaan
dari setiap orang yang mengenal. Itu semua tanpa kau perhitungkan secara
realistis dan penuh ambisius.
Kau
sedikitnya telah membaca tentang berbagai kejadian yang di depan matamu, yang
terjadi menimpa dirimu, baik memberi garis kegembiraan, maupun harus derai yang
tertumpah di kedua sudut mata. Semua telah memberi pelajaran padamu,
membeberkan tentang segala proses yang sudah seyogyanya terjadi, dan telah kau
sadari penuh bahwa itu adalah titian jalan menuju pemahaman dari-Nya. Meski tak
langsung kau temukan tafisrannya untuk dimaknai dalam tindak nyata.
Semua menuju
proses, proses itu menuju titian kedewasaan dan kematangan dirimu, walaupun
mungkin tak kau yakini sepenuhnya bahwa hal tersebut telah menjadi sesuatu yang
diharapkan sekitarmu. Namun setidaknya telah kau upayakan untuk menemukan inti
dirimu yang sejati namun tak sempurna itu. Cukuplah kau menjadi dirimu yang
utuh begitu.
Jangan
lepaskan motivasimu untuk belajar selalu pada seekor kupu-kupu. Jangan lupakan
esensi jati dirinya yang mengawali hidupnya tak seindah awal ketika ia
dihidupkan dalam keadaan ulat, menjijikan dan dihindari sekitarnya. Namun
lihatlah dengan proses menuju keindahannya itu, kupu-kupu mampu dikagumi dan
memberi pelajaran yang penting jika manusia memikirkan tahapan hidupnya
tersebut.
Kau tetaplah
menjadi kau seutuhnya. Meski kadang sekitarmu memulukkan dirimu menjadi begini
dan begitu. Memaksamu agar tak sekehendak dengan dirimu yang sejati, tetapi
cukuplah dengarkan mereka, ambil segala hal yang baik-baik saja. Dan
perlakukanlah sebagaimana kau sukai mereka memperlakukanmu.
Sekarang,
kau mulai berpikiran tentang kemandirian. Kemandirian yang seharusnya dibekali
dengan mental yang matang dan kuat. Kemandirian yang akan membawamu menuju
lingkup hidup baru, hidup bersama seseorang yang kau putuskan pada detik itu
adalah selamanya akan meniti hidup bersamamu, bersamanya akan menuju keabadaian
atas izin-Nya. “Mau cepat atau nanti-nanti, cukuplah aku fokus dengan segala
persiapan yang harus ditempuh. Mental oke dan sederet upaya praktis sebagai
wujud melatih diri mulailah dipersiapkan sejak saat ini,” hatimu mendikte.
Dulu, mana
ada dirimu yang memikirkan sampai jauh semacam itu? Bukankah hal itu adalah hasil
dari proses kau mencari pembelajaran, karena Ia Yang Maha Mengajarkan telah
membuka mata dan pikiranmu untuk secara lebih luas meregup hikmah. Semoga
selalulah Ia menawarkanmu untuk terus mengambil segala hikmah yang di hari
kemudian barulah kausadari kembali, kau telah berproses menemukan “dirimu yang
sejati namun tak sempurna” itu.
Saat ini
juga, selalulah beri’tikad agar tak ingin kehilangan motivasi dan misi.
Keduanya hanya kau yang membentuk, kau yang menjalani, dan hanya untukmu.
Sudahi segala bentuk kemanjaanmu yang hanya membuatmu jatuh melemah. Cukuplah
tangismu hanya akibat dari ‘membaca’ keprihatinan sekitarmu yang harus
kauperbuat lebih. Cukuplah kau hanya menjadi hamba Sang Maha Perkasa.
Tanggalkan segala kebodohan yang membenamkanmu pada kekufuran yang sering tak
kausadari. Mulailah belajar lagi dan lagi mensyukuri segala nikmat-Nya yang tak
akan pernah terbilang takarannya.
Selamat
berjuang untuk Dini Fitrah Eristanti! J
“Allah,
perkenankanlah kami untuk belajar selalu. Dengan segala cara apa yang Kau
kehendaki.”
17 Oktober
2014
23.21
