Rabu, 22 Oktober 2014

Nasihat untuk Diri yang Bernama Dini

Seribu langkah kaki yang telah kau tempuh sejak masa itu telah mengantarmu ke sudut kota. Kota yang kau pijaki tanpa mimpi dan angan panjang sebelumnya. Dimana disanalah lambat laun kau membuat sebuah penegasan pada diri sendiri tentang hakikat menjadi diri yang tak akan pernah sempurna dan penuh teka-teki, begitu katamu. Termasuk tentang waktu yang tak pernah terbentik kala itu yang ternyata di tanah inilah yang mesti kau jajaki.
Banyak yang terjadi pada dirimu di atas tanah pijakmu kini, entah pijakmu kini masih menuju pada segala ambisi yang kau fantasikan sejak dulu, ataukah justru menarik diri dari ambisi itu? Atau mungkin motivasinya telah lenyap yang dulu pernah kau tulis nyata di atas kertas putih? Kau ingat, kata-kata yang kau tulis itu sebuah uraian setelah air mata menggenang dan tertumpah dalam buaian Bunda?

gstatic.com
Sedikit dan lambat laun kau menyadari akan segala keinginan yang tak akan pernah sejati dan bernilai luhur, kecuali jika ianya disejajarkan dengan apa yang diharapkan lingkunganmu. Dulu kau begitu egois, cita-citamu berlandas nafsu yang seakan kaulah satu-satunya yang bisa melakukannya, kau mengharap sanjungan dan dambaan dari setiap orang yang mengenal. Itu semua tanpa kau perhitungkan secara realistis dan penuh ambisius.

Kau sedikitnya telah membaca tentang berbagai kejadian yang di depan matamu, yang terjadi menimpa dirimu, baik memberi garis kegembiraan, maupun harus derai yang tertumpah di kedua sudut mata. Semua telah memberi pelajaran padamu, membeberkan tentang segala proses yang sudah seyogyanya terjadi, dan telah kau sadari penuh bahwa itu adalah titian jalan menuju pemahaman dari-Nya. Meski tak langsung kau temukan tafisrannya untuk dimaknai dalam tindak nyata.

Semua menuju proses, proses itu menuju titian kedewasaan dan kematangan dirimu, walaupun mungkin tak kau yakini sepenuhnya bahwa hal tersebut telah menjadi sesuatu yang diharapkan sekitarmu. Namun setidaknya telah kau upayakan untuk menemukan inti dirimu yang sejati namun tak sempurna itu. Cukuplah kau menjadi dirimu yang utuh begitu.

Jangan lepaskan motivasimu untuk belajar selalu pada seekor kupu-kupu. Jangan lupakan esensi jati dirinya yang mengawali hidupnya tak seindah awal ketika ia dihidupkan dalam keadaan ulat, menjijikan dan dihindari sekitarnya. Namun lihatlah dengan proses menuju keindahannya itu, kupu-kupu mampu dikagumi dan memberi pelajaran yang penting jika manusia memikirkan tahapan hidupnya tersebut.

Kau tetaplah menjadi kau seutuhnya. Meski kadang sekitarmu memulukkan dirimu menjadi begini dan begitu. Memaksamu agar tak sekehendak dengan dirimu yang sejati, tetapi cukuplah dengarkan mereka, ambil segala hal yang baik-baik saja. Dan perlakukanlah sebagaimana kau sukai mereka memperlakukanmu.

Sekarang, kau mulai berpikiran tentang kemandirian. Kemandirian yang seharusnya dibekali dengan mental yang matang dan kuat. Kemandirian yang akan membawamu menuju lingkup hidup baru, hidup bersama seseorang yang kau putuskan pada detik itu adalah selamanya akan meniti hidup bersamamu, bersamanya akan menuju keabadaian atas izin-Nya. “Mau cepat atau nanti-nanti, cukuplah aku fokus dengan segala persiapan yang harus ditempuh. Mental oke dan sederet upaya praktis sebagai wujud melatih diri mulailah dipersiapkan sejak saat ini,” hatimu mendikte.

Dulu, mana ada dirimu yang memikirkan sampai jauh semacam itu? Bukankah hal itu adalah hasil dari proses kau mencari pembelajaran, karena Ia Yang Maha Mengajarkan telah membuka mata dan pikiranmu untuk secara lebih luas meregup hikmah. Semoga selalulah Ia menawarkanmu untuk terus mengambil segala hikmah yang di hari kemudian barulah kausadari kembali, kau telah berproses menemukan “dirimu yang sejati namun tak sempurna” itu.
Saat ini juga, selalulah beri’tikad agar tak ingin kehilangan motivasi dan misi. Keduanya hanya kau yang membentuk, kau yang menjalani, dan hanya untukmu. Sudahi segala bentuk kemanjaanmu yang hanya membuatmu jatuh melemah. Cukuplah tangismu hanya akibat dari ‘membaca’ keprihatinan sekitarmu yang harus kauperbuat lebih. Cukuplah kau hanya menjadi hamba Sang Maha Perkasa. Tanggalkan segala kebodohan yang membenamkanmu pada kekufuran yang sering tak kausadari. Mulailah belajar lagi dan lagi mensyukuri segala nikmat-Nya yang tak akan pernah terbilang takarannya.

Selamat berjuang untuk Dini Fitrah Eristanti! J


“Allah, perkenankanlah kami untuk belajar selalu. Dengan segala cara apa yang Kau kehendaki.”

17 Oktober 2014
23.21