“Fa firruu ilallah”—sudah hafal dengan kalimat perintah tersebut? Itulah potongan ayat dalam surah Az-Zariyat ayat 50 dalam kitab Peringatan-Nya. Begitu saya membaca kalimat ini rasanya ada magnet yang mendorong saya untuk membaca terjemahannya. Oh
rupanya.. ”maka bersegeralah kembali (mentaati)
Allah”. Dengan spontan saya langsung mengucapkan kepada teman
yang baru saja pulang dari kampus, dan hendak mendirikan shalat maghrib, ia sudah
memakai mukena dan menghamparkan sajadah, “Mus, fa firruu ilallah!”. Responnya?
Sedikitpun Mustika tak menoleh, ada rasa sedikit kecewa sih..tapi terobati karena
ia segera mengangkatkan tangan dan “Allahu Akbar”, suaranya lirih. Dalam benak saya, “Oh Mustika udah paham tho”,
lanjut membaca terjemahan ayat lainnya.
Usai salam ia langsung bertanya pada saya, “Eh Din, tadi kamu bilang apa sebelum aku shalat?” nadanya yang selalu antusias kalau bertanya dan serius. (Hadew -_- kirain udah paham :D). “Fa firruu ilallah!” sambil setengah mengacungkan telunjuk. Hehe.“Artine opo e?” tambah antusias. Segera saya cek ulang kalau-kalau ada yang salah, ”maka bersegeralah kembali (mentaati) Allah,
Mus..”. “Oh jadi kamu nyuruh aku kembali kepada Allah setelah pulang dari kampus?” senyumnya menyeringai. “Eh, bukan aku yang nyuruhlah, Mus…
Udah jelas
Allah yang nyuruh langsung…”,
nada so’ tegas. “Iya e Din, berarti dalam keadaan apapun kita harus tetap kembali pada Allah ya, lagi capek, lagi sedih, lagi seneng, ah pokonya dalam keadaan apapun”. “hehe.. siipp banget, Mus”, giliran si jempol yang diacungkan.
Nah,
ini nih
yang sering kita abaikan. Begitu banyak kalimat peringatan yang Allah Swt.
Tujukan kepada kita melaui media
komunikasi-Nya, Al-Qur’an, tapi kita tak menggubris sedikitpun untuk menjalankan perintah-Nya Yang Agung. Tagihan biaya sekolah,
tagihan listrik, tagihan kreditan, dsb justru sering kali menempati posisi lebih
utama untuk ditanggapi dibandingkan dengan peringatan dari Sang MahaPemberi itu
semua. Kita justru membenturkan diri pada dalih-dalih bandel, “Kalau nggak segera
saya lunasi kan nanti dikeluarkan dari sekolah. Kalau nggak cepet-cepet dibayarkan
kan malu sama tetangga. Bla, bla, bla :p”. Wah, berasa semuanya emergency banget
alias kepepet.
Biar
Allah yang urus, boss.. bukankah segala urusan itu datangnya dari Allah? Setelah kita berdo’a dan berusaha kan eksekutornya Allah…
serahkan semuanya pada Allah, bukan kepada tetangga yang siap minjemin duit. Hehe.. penjaminannya kan juga telah disebutkan berkali-kali, “Dialah Yang
MahaPemberi”.
Tidak sembarang lho Allah melontaran kalimat peringatan-Nya. Peringatan-Nya tentang
apapun dalam Al-Qur’an dilatarbelakangi oleh ulah kaum-kaum yang sudah terlewat
batas, ada Kaum Nabi Nuh yang dibinasakan oleh banjir besar, Kaum Nabi Luth
yang dihujani batu, dan ada juga Fir’aun beserta kaumnya yang ditenggelamkan di
laut Merah atas kesombongannya karena mengaku dirinya sebagai tuhan. Naudzubillah
kalau kita termasuk golongan yang melampaui batas.
Begini, saat kita dirundung kegalauan maka segeralah perintahkan
secara otomatis diri kita untuk tergerak kembali pada-Nya, berdo’a, curhat sama
Allah, minta diberi petunjuk, kemantapan hati, de el el apapun permintaan
kita. Begitu pun saat kita senang, gembira, mendapat kenikmatan, maka segera berucap
syukur, “barangsiapa yang bersyukur maka akan ditambahkan kenikmatannya,
barangsiapa yang kufur maka tunggulah azab yang pedih”. Dengan cara itulah kita
tunjukkan ketaatan kita sebagai seorang hamba yang ‘melek’ atas peringatan yang
Allah lontarkan.
Yuk, sama-sama kita mulai perhatian atas perhatiannya
Allah kepada kita. Jangan sampai karena begitu congaknya kita karena tak menggubris
peringatan Allah lantas Allah memberi punishment-Nya, berupa kebutaan mata,
hati, dan pikiran kita. naudzubillah min dzalik!
Mustika bilang, dalam keadaan apapun kita harus tetap kembali
pada Allah. Ustadz Yusuf Mansur bilang,
Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Terkahir, saya bilang, kiblatkan segalanya
hanya pada Allah. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar