![]() |
| www.santosaisme.com |
Rintik
hujan telah menyudahi aktivitasnya untuk menyiram tanah di bumi ini sejak sore
tadi. Hanya bau basah yang menyisakan di malam ini. Terjangkau oleh indera
pendengaranku hanya nyanyian jangkrik yang mengiring larutnya malam hingga
alunannya menjadi pengantar tidur nanti.
Sungguh syahdu fenomena alam yang Ia padukan dalam setiap malam-malam
gelap di tengah musim hujan ini.
Aku
hanya seorang diri di kamar. Cekikik tawa juga mewarnai seantero rumah ini,
adalah Lala dan Naili yang entah sedang membicarakan apa sampai tiada henti
tawanya menggema di kamar sebelah sambil menonton drama korea kegemaran mereka.
Wiwik dan Faul sepertinya sudah terlelap melandaskan ke waktu istirahatnya,
mengantar mereka pada mimpi-mimpi yang menyelimuti di tengah dingin malam
gelap. Dua temanku itu hampir dipastikan akan tidur dalam waktu yang
berbarengan. Satu lagi, Kiky yang sedang sibuk latihan di Drum Corps, ia harus
pulang malam dan jika dia lupa membawa kunci rumah maka dia akan
menggedor-gedor pintu dari luar, akhirnya kami yang sudah tidur terbangun kaget
karena ulahnya.
Kini
aku hidup bersama mereka, dengan segala sifat dan karakter mereka
masing-masing, serta dengan apa-apa pembelajaran yang kerap kali mengingatkan
kealfaanku dan mengajarkan karena kebodohanku. Terlebih jika masih ada Mba
Mumun, kakak senior kami yang baru menyelesaikan tugas PPLnya dan sekarang
pindah kost ke dekat UGM. Dia banyak mengayomi, mengajarkan kami bagaimana
mengurus rumah sampai memberi wejangan bagaimana bersosialisasi dengan warga
sekitar. Selain itu, kepindahan mba Mumun membuat seisi rumah ini merasa
kesepian.
Malam
ini, aku memaksakan menulis. Tak peduli dengan isi yang terurai dari benak dan
pikiranku, meski mataku telah memberi sinyal-sinyal memberatkan. Rasanya lelah
sekali aktivitas yang kujumpai hari ini, sejak pukul delapan aku dan
teman-teman IMM menuju Pabrik Bakpia Pathok 25 untuk melakukan kunjungan industri,
karena memang inilah salah satu program kerja kami sambil mengajak kader baru
untuk refreshing. Seusai dari sana, istirahat sebentar di Sekretariat
sambil duduk–duduk mencicipi bakpia yang kami beli, segera membuang kemalasan
karena merasakan teriknya siang dan berjalan menuju kelas untuk kuliah
Psikologi Klinis hingga sore hari. Bergegas pulang dan tak mengiyakan pertanyaan
Lala apakah akan ikut diskusi soal kenaikan harga BBM atau mau langsung pulang.
Aku tegas ingin segera pulang, istirahat dan makan. Aku pun tak menghiraukan
ajakan teman-teman di sms untuk hadir di diskusi tersebut. Entah apa yang
diinginkan tubuhku ini pasca opname dua pekan lalu. Ia menjadi mudah lelah dan
tak tahan dengan aktivitas padat. Padahal sebelumnya aku bisa mengikuti
berbagai kegiatan di kampus dari pagi hingga malam, tanpa dirasa lelah bahkan
rasa lapar pun seringkali terkesampingkan. Mungkin kondisi tubuhku yang saat
ini payah menjadi penebusan atas tindakanku yang kemarin-kemarin terlalu
memporsir tanpa mengindahkan hak-haknya secara adil. Tak bisa kusangkal, itulah
yang menjadi pembelajaran yang berarti untukku. Tidak menunda-nunda waktu makan
dan mengurangi waktu begadang, setidaknya dua hal itu yang harus kuikhtiarkan
demi membenahi kesehatanku.
Tapi
di samping kepayahanku terhadap aktivitas yang harus kulonggarkan, aku menjadi
lebih suka menghabiskan waktu untuk membaca buku, khususnya buku yang berisi
nutrisi untuk memulihkan keadaan jiwaku yang labil dan sering ragu-ragu. Kali
ini kupikir aku harus mengulang untuk membaca buku yang dipersembahkan oleh
Derry Oktriana Syofiadi, Selamat Tinggal Tuhanku Aku Perempuan Merdeka.
Di dalamnya Derry menguraikan berbagai fase yang telah ia tempuh menuju hijrahnya
secara totalitas. Ia pernah dihujat dan cemooh oleh orang di sekitarnya yang
disebabkan oleh perubahan dirinya, dari seorang perempuan yang tak menghiraukan
batas-batas dan aturan agama menjadi sesosok muslimah yang mengindahkan segala aturan
syar’i. ia tetap terus meneguhkan hatinya yang koyak dan luluh lantak, karena
ia yakin bahwa Allah senantiasa selalu bersamanya, dekat dengannya. Kalau
dilihat dari judulnya bisa dipersepsikan agak kontroversial, tetapi maksud
Derry tuhan yang yang dimaksud dalam judul itu adalah segala sesuatu yang
dituhankan manusia padahal nafsu kejahiliyahan lah yang menyetir arahnya. Bukan
Tuhan Sang Pemilik Keabadian.
Aku
membaca tulisannya atau lebih tepatnya adalah diary nya bahkan sampai merasa
tersindir, boleh jadi aku pun mengalaminya namun rasa keangkuhanku selalu
membuat pembelaan diri yang melanggengkan pengakuan sebagai manusia yang lemah.
Tapi memang banyak hal yang harus kucontek dari Derry, pengalamannya dalam
memerangi nafsu kejahiliyahan, menguatkan diri sedaya upaya untuk tidak
tergoyahkan karena cibiran dan hujatan orang-orang, dan yang paling penting
adalah mengembalikan segala perkara kepada Dzat yang tak akan pernah tidur,
selalu ada untuknya di kala bersedih dan senang. Kini Derry telah bangkit
dengan hati yang baru dan utuh untuk dikembalikan seluruh pengabdian hidupnya
di jalan dakwah.
Mungkin
aku sudah mulai jatuh hati pada Derry, kendati belum pernah bertatap muka
dengannya. Namun perjalanan hijrahnya yang totalitas telah menghipnotisku. Tapi
setelah itu kenapa aku masih saja berdiam diri? Masih saja mempertimbangkan
apakah aku bisa seperti Derry yang telah memenangkan jalan kebahagiaannya atau
tidak? Dengan sikap yang seperti itu membuatku takut, aku tak ingin menjadi
manusia yang pandai bercakap tapi tak mampu melakukan apa yang aku katakan. Naudzubillah…
Ya
Rabbana, Yang Maha Kuat, kuatkan aku mengumpulkan keberaniaan untuk
menyegerakan gerakan hijrah dalam diriku yang lemah ini. Rengkuhlah aku dalam
pelukan-Mu, tuntunlah tanganku agar siap menyambut hidayah-hidayah yang akan
Kau turunkan padaku. Mudahkalnlah jalannya.. dan tolonglah aku untuk selalu
memproteksi lisan, pikiran dan hati dari segala hal yang Kau murkai. Semoga
Engkau pun berkenan bumi dan langit ini turut mendekapku dalam do’a-do’anya
yang dipanjatkan demi manusia lemah ini.
Terima
kasih ya Allah untuk hari ini.
Satu
pintaku lagi, bangunkan aku dari tidurku nanti malam ketika Kau hadir ke bumi
ini yaa (^_^)
Yogya, 5
Desember 2014
21.33

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusDini Fitrah Eristanti ^_^
BalasHapus